Monday, February 16, 2015

Pengelolaan Media Internal Perusahaan oleh Konsultan



Oleh: Mulyadi saputra
Dalam kegiatan Humas, komunikasi dapat dilaksanakan secara langsung dan tidak langsung. Kegiatan penyampaian informasi secara langsung (face to face) tampaknya akan lebih mudah karena antara komunikator dan komunikan berhadapan langsung. Lain halnya dengan komunikasi tidak langsung yang memerlukan media.
Komunikasi tidak langsung dapat dilakukan dengan menggunakan media khusus yang bisa dipakai untuk itu, baik yang bersifat auditif maupun visual. Bahkan atas kemajuan teknologi di bidang komunikasi, kini media komunikasi antar personal yang bersifat auidio-visual pun telah banyak digunakan (Suhandang, 2004: 212).

Media berita merupakan faktor utama dalam humas yang berfungsi untuk mengontrol arus publisitas melalui saluran-saluran komunikasi umum, yang sangat penting. Dengan demikian, pemilihan media massa yang sesuai adalah esensial untuk persiapan dan penyebaran siaran berita (news release). Pemilihan media, khalayaknya, dan kebijakan redaksional suatu media harus dipertimbangkan dengan baik.
Menurut Moore (2005, 195-197), media publisitas yang digunakan humas di Amerika Serikat meliputi surat kabar berbahasa Inggris atau asing yang diterbitkan setiap hari, setiap minggu atau pada jangka waktu lainnya; majalah yang diterbitkan untuk khalayak, wanita, pejabat, petani, para profesional, dan kelompok etnik, dan kelompok kepentingan khusus; siaran radio dan televisi; dan sindikat feature, gambar dan berita.
Namun, dalam lingkup Humas, media yang berlaku adalah media internal Public Relation atau disebut juga sebagai media house journal atau in house magazine, di mana media ini merupakan media untuk menyampaikan sesuatu ide atau informasi. Menurut Rosady Ruslan, dalam bukunya Kiat dan Strategi Kampanye Public Relations menyebutkan bahwa, Media Internal atau media house journal adalah Media yang dipergunakan untuk kepentingan kalangan terbatas dan non komersial serta lazim digunakan dalam aktivitas Public Relations (Ruslan, 2008:25).
Media internal tujuannya adalah untuk memberikan informasi kepada karyawan tentang kebijakan, kegiatan atau program-program perusahaan. Seperti yang dikatakan oleh Onong adalah:
1.      Untuk memberikan informasi mengenai operasionalisasi kebijaksanaan dan masalah-masalah perusahaan.
2.      Untuk lebih mendekatkan para karyawan kepada perusahaan.
3.      Untuk membuat para karyawan merasa dirinya anggota dari organisasi tunggal.
4.      Untuk membantu karyawan mengerti satu sama lain. (Effendy, 2009:169).
            Hal ini dimaksudkan adalah karyawan menjadi tahu segala informasi tentang perusahaan, apa yang terjadi, kebijakan apa saja yang baru dikeluarkan dan segala hal lainnya yang berkaitan dengan perusahaan. Dengan sangat well informed-nya karyawan, maka hal ini akan menimbulkan rasa memiliki karyawan terhadap perusahaan. Hal tersebut juga membuat karyawan merasa dirinya adalah bagian dari perusahaan, karena segala aktivitas karyawan di perusahaan tertuang dalam media internal, hingga karyawan merasa dirinya dihargai dan memiliki arti bagi perusahaan. Media internal juga membuat karyawan lebih mengetahui situasi perusahaan, tidak terbatas pada bagian atau unitnya saja tapi juga keadaan karyawan, keadaan perusahaan secara menyeluruh, hingga dapat terjalin rasa saling pengertian.
Media internal mempunyai suatu fungsi tersendiri. Seperti yang dikatakan oleh John Tondowidjojo dalam bukunya Dasar dan Arah Public Relations:
Majalah perusahaan harus berfungsi sebagai sumber informasi, pembentukan opini, pembangkit inovasi, stimulasi dan suatu forum komunikasi untuk semua pihak berdasarkan kebebasan pendapat (Tondowidjojo, 2002:27).

Majalah perusahaan tersebut dapat dikategorikan ke dalam media internal, maka fungsi majalah internal tersebut di atas dapat juga diartikan sebagai fungsi media internal. Media internal harus berfungsi sebagai informasi, maksudnya segala hal yang terdapat dalam media internal haruslah dapat memberikan input atau tambahan informasi bagi publik internal yang membaca atau mengaksesnya. Informasi yang dimuat adalah berbagai informasi yang berkaitan dengan perusahaan, baik kegiatan manajemen, kabijakan-kebijakan baru, produk baru atau informasi tentang karyawan lainnya.
Media internal berfungsi sebagai pembentukan opini, maksudnya dengan menggunakan media internal public relations hingga nantinya memunculkan opini-opini dari publik internal. Media internal sebagai pembangkit inovasi dan stimulasi, maksudnya dengan menampilkan informasi misalnya mengenai karyawan yang berprestasi maka karyawan lain akan terpacu untuk berkarya dan membuat terobosan atau karya baru yang berguna bagi perusahaan.
Media internal sebagai forum komunikasi maksudnya melalui media internal, karyawan dapat menyampaikan opini, pendapat atau masukan bagi perusahaan, atau juga dapat berdiskusi dengan pihak manajemen dengan menggunakan media internal yang ada.
Untuk menjalankan fungsi dari media internal tersebut, maka isi media internal harus disusun sedemikian rupa agar dapat memenuhi fungsi-fungsinya. Menurut Oemi Abdurachman dalam bukunya Dasar-dasar Public Relations, mengatakan bahwa:
Isi majalah internal harus sesuai dengan kepentingan dan kesenangan para pembaca, harus berdasarkan dengan apa yang patut diketahui oleh para pembaca (Abdurachman, 2001:99).

Berdasarkan pernyataan tersebut, maka isi media internal harus disesuaikan dengan publiknya, misalnya publik internal yang menjadi sasaran berasal dari perusahaan apa, tema-tema apa yang kiranya menarik dan patut diketahui. Karena bila isinya tidak disesuaikan maka akan terjadi kesimpangsiuran. Media internal harus berisi tentang hal-hal yang patut diketahui karyawan, misalnya tentang kebijakan, produk baru perusahaan dan informasi lainnya.
Menurut Frank Jefkins, menyebutkan lima bentuk utama House Journal yang diartikan secara luas yakni sebagai bahan cetakan yang diterbitkan secara berkala atau periodik, yakni sebagai berikut:
1.      The Sales Bulletin, sebuah buletin sebagai media komunikasi reguler antara seorang sales manajer dengan salesman-nya di lapangan;
2.      The Newsletter, berisi pokok-pokok berita yang diperuntukkan bagi pembaca yang sibuk;
3.      The Magazine, berisikan tulisan berbentuk feature, artikel dan gambar, foto, diterbitkan setiap bulan atau triwulan;
4.      The Tabloid Newspaper, mirip surat kabar popular (umum) dan berisikan pokok-pokok berita yang sangat penting, artikel pendek dan ilustrasi;
5.      The Wall Newspaper, bentuk media komunikasi staff atau karyawan di satu lokasi pabrik, perusahaan, atau pasar swalayan. Di indonesia dikenal dengan surat kabar atau majalah dinding (Seomirat, 2012:23).
Secara umum, Abdurahman (2007: 37-38) berpendapat, dalam media terbitan ada dua kelompok besar yakni halaman iklan dan non iklan, serta Informasi bersifat fakta serta opini. Media harus dapat memilah kedua hal tersebut, baik mana yang bersifat informasi fakta atau opini tak dapat dicampur adukkan dalam satu tulisan, hingga terjadi simpang siur. Melihat hal ini, media internal juga harus dapat mengacu pada esensi tersebut.  
Selama beberapa tahun terakhir ini telah bermunculan beberapa bentuk jurnal internal baru yang selanjutnya memberi sejumlah dimensi yang baru atas hubungan antar pihak manajemen dan para karyawan perusahaan pada umumnya. Beberapa di antaranya adalah Jefkins (2001) dalam Soemirat (2012:24):
1.      Jurnal audio. Berita dapat direkam pada sebuah pita kaset yang bisa diputar ulang kapan saja oleh semua orang, baik itu di kantor, di tengah perjalanan maupun di rumah;
2.      Jurnal video. Suatu peristiwa atau acara juga bisa direkam melalui kamera video. Keunggulan dari jurnal bentuk ini adalah lebih jelas dalam menggambarkan situasi sehingga apa yang hendak ditampilkan lebih mudah dipahami;
3.      Video perusahaan. Ini perkembangan lebih jauh dari jurnal video yang berupa jaringan komunikasi televisi di perusahaan yang ditransmisikan melalui satelit ke berbagai cabang dan unit perusahaan;
4.      Koran elektronik. Ini adalah suatu jaringan komunikasi melalui komputer, di mana komputer induk berkesinambungan dengan sejumlah besar komputer pribadi. Setiap pemakai yang membutuhkan berita tertentu dapat menghubungi komputer induk dan dengan segera bisa mendapatkan apa yang dibutuhkannya.
Lalu, tahap berkutnya adalah proses produksi media internal. Sebab, tidak semua proses produksi berjalan dengan lancar. Dalam proses tersebut, biasanya sering terjadi kekacauan yang diakibatkan tidak terstrukturnya proses produksi majalah tersebut. Untuk menghindari atau meminimalkan hal tersebut serta mengendalikan proses produksi pembuatan majalah yang berlangsung agar menjadi suatu proses, maka pihak yang memproduksi suatu majalah membutuhkan suatu kerangka kerja untuk menilai apa yang terjadi dalam proses produksi sebuah majalah.
Menurut Soemirat (2012: 32), proses produksi terdiri dari pra produksi, produksi dan pasca produksi. Adapun penjelasan dari proses produksi tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Pra Produksi
Pada tahap pra produksi, ada beberapa tahap yang harus dilakukan, yaitu: Pembagian Bidang Redaksi, Perencanaan Isi dan Rubrikasi.
Dalam pembagian bidang redaksi, harus dilakukan agar tidak terjadi masalah antara pemimpin redaksi dan reporter, karena bagian redaksi merupakan seorang yang menjadi “gawang” berita-berita yang masuk sebelum berita itu diloloskan ke percetakan dan koordinator reportase mengatur dan memimpin para reporter, menugaskan mereka untuk mencari bahan berita.
Sedangkan dalam perencanaan isi dan rubrikasi, disebut dengan editorial mix. Dari sini lah disusun rubrik-rubrik untuk suatu penerbitan pers atau house journal suatu perusahaan. Setelah gambaran rubrikasi diperoleh, perlu pendekatan dalam pemilihan informasi atau pemuatan informasi yaitu: pendekatan kualitatif, pendekatan kuantitatif atau kombinasi keduanya.
Pendekatan kualitatif adalah pemilihan informasi yang akan dimuat berdasarkan kualitas informasi yang mengacu kepada tinggi rendahnya nilai berita dan berharga tidaknya berita. Pendekatan kuantitatif adalah usaha memuat informasi, dalam rubrik berdasarkan jumlah halaman yang telah ditentukan.
Beberapa hal pokok untuk menilai informasi tersebut mempunyai news value (nilai berita) dan news worthy (berharga sebagai berita) atau tidak, yaitu:
1.      Significant (penting), apakah berita itu penting untuk pembaca atau tidak?
2.      Magnitude (besar), cukup besarkah pengaruh berita itu terhadap pembaca atau tidak?
3.      Aktualitas, apakah berita ini Baru untuk pembaca atau tidak?
4.      Proximity (jarak), apakah berita tersebut punya kedekatan jarak atau tidak terhadap pembaca. Kedekatan ini bisa bersifat geografis atau psikologis.
5.      Human interest, ada sentuhan kemanusiaannya atau tidak?
6.      Prominent (terkenal), apakah yang diberitakan cukup terkenal atau tidak? (Soemirat, 2012: 34).
Contoh nama rubrikasi atau house journal suatu perusahaan, di antaranya: laporan utama, laporan khusus, teknologi, keuangan, visi, trend. Peristiwa dan berita, lingkungan dan keselamatan, interaksi, halaman kita, perjalanan, serba-serbi, tokoh, memo, resensi.
Bentuk tulisan rubrikasi bisa stright news (berita langsung), feature/tuturan/karangan khas, artikel, kolom, opini, dan laporan mendalam.
2.      Produksi
Begitu juga pada tahapan ini. Agar majalah yang tercipta sesuai dengan yang dikehendaki, maka perlu mengetahui tahapan-tahapan yang harus dilakukan, yaitu peliputan atau pengumpulan informasi. Pada proses ini biasanya dilakukan oleh reporter, namun seorang reporter agar menghasilkan laporan suatu kejadian secara tepat, ia harus mengetahui bagaimana peristiwa itu bisa terjadi, bagaimana fungsi-fungsi pemerintahan kota berlangsung, bagaimana pelaksanaan sistem suatu sekolah/perguruan tinggi, bagaimana sistem hukum pidana/kriminal dibangun.
Pengetahuan ini adalah bagian latar belakang yang bersifat umum bagi jurnalis dalam melakukan reportase/liputan dan penulisan suatu berita. Untuk memperoleh pengetahuan semacam itu, seorang reporter harus terus meningkatkan pengalamannya, banyak membaca dan tahu bagaimana menggunakan bergbagai bahan-bahan referensi, (Mencher, 1986: 77 dalam Soemirat (2012:35).
Melvin Mencher dalam bukunya Basic News Writing yang dikutip oleh Soemirat (2012:36) mengemukakan tiga sumber utama memperoleh informasi untuk berita:
1.      Pengamatan langsung: Fakta dan data diperoleh seorang reporter dengan melakukan pengamatan langsung atau observasi ke lokasi kejadian atau peristiwa secara langsung. Pada pelaksanaannya reporter dikejar waktu dan banyak beresiko tinggi. Fakta inilah yang membawa tingginya nilai berita.
2.      Human source (narasumber): Fakta dapat diperoleh dengan melakukan wawancara kepada orang-orang yang menyaksikan, terlibat atau terkait dengan peristiwa itu. Misalnya orang yang berwenang tentang suatu objek, orang yang terlibat dalam suatu peristiwa. Reporter melakukan hal ini, niasanya karena untuk menambah fakta dan data setelah mengamati langsung atau reporter tidak dapat mengamati langsung suatu peristiwa.
3.      Menelusuri berbagai laporan, dokumen, bahan referensi lainnya, termasuk kliping koran, film dan rekaman dari perpustakaan stasiun penyiaran, pertemuan, rekaman tape, pengadilan, polisi, catatan legislatif, anggaran, dan catatan pajak.
Untuk mendapatkan laporan atau berita yang mendalam, reporter menggabungkan ketiga sumber informasi di atas. Dalam pengumpulan informasi untuk house journal juga menggunakan tiga sumber informasi utama yaitu pengamatan langsung, melakukan wawancara dan menelusuri laporan, dokumen dan referensi lainnya. Hanya saja petualangan reporter house journal, tidak memiliki resiko yang tinggi untuk liputan-liputan tertentu, seperti reporter media massa (pers).
Setelah dilakukannya peliputan, selanjutnya menulis naskah. Menurut Sherry Baker, seperti yang dikutip oleh Menurut, Ruslan (2011:66), seorang penulis naskah bidang kehumasan untuk mengembangkan etika dalam penulisan di media, agar pesan persuasive. Hal ini menunjukkan bahwa penulis (PR writing) memang harus menguasai dunia kepenulisan sehingga pesan yang disampaikan kepada khalayak benar-benar dapat menyampaikan pesan persuasive tersebut.
Menulis naskah untuk media massa, termasuk cetak itu bergantung kepada bentuk naskah yang hendak ditulis. Secara garis besar bentuk-bentuk naskah surat kabar, majalah dan media massa cetak lainnya (termasuk house journal) adalah bentuk berita, feature/tuturan/karangan khas, news feature, dan artikel.
Secara umum penulisan naskah berita merupakan hasil liputan seorang reporter/wartawan atau mengutip dari kantor berita dalam dan luar negeri. Berita itu kemudian dipilih dan diedit oleh redaktur sebelum dimuat atau diterbitkan. Sedangkan teknis menulis berita umumnya menggunakan gaya penulisan piramida terbalik. Hal ini untuk memudahkan khalayak/pembaca yang bergegas untuk cepat mengetahui apa yang terjadi dan diberitakan.
Di samping itu, tujuan lain yang sifatnya teknis yakni untuk memudahkan para redaktur/editor memotong bagian yang tidak penting pada bagian paling bawah karena terbatasnya ruangan atau untuk memenuhi ruang yang tersedia di media massa. Pada dasarnya gaya piramida terbalik dalam menulis berita diselaraskan dengan karakter khalayak maupun cara kerja reporter yang bergegas dan sigap harus cepat tuntas.
Dalam teknik menulis berita, jika teras berita telah dapat dirumuskan umumnya tubuh berita hanya tinggal meneruskan.
Mengingat teknik menulis berita erat pula hubungannya dengan bahasa jurnalistik, gaya dan teknik menulis berita harus berpegang pada: (1) laporan berita haruslah bersifat menyeluruh; (2) ketertiban dan keteraturan mengikuti gaya menulis berita; (3) tepat di dalam penggunaan bahasa dan tata bahasa; (4) ekonomi kata harus diterapkan; (5) gaya penulisan haruslah hidup, punya makna, warna dan imajinasi (Assegaff, 1993:54).

3.      Penyuntingan Naskah
Soemirat (2012:45) dalam ‘Dasar-Dasar Public Relation’, mengutip dari Agee dan Hester:
Menyunting (editing) adalah satu tanggung jawab yang dipikul bersama oleh banyak orang di surat kabar (termasuk House Journal). Penyuntingan mulai ketika seorang reporter memperbaiki tulisannya sebelum dia menyerahkannya. Penyuntingan selesai ketika kesalahan terakhir sudah diperbaiki beberapa saat sebelum edisi koran tersebut naik cetak – bahkan setelah itu kalau deadline (batas waktu) memungkinkan. Di antara kedua saat itu para editor (redaktur pembantu) menggunakan keterampilan mereka. Seberapa pandai mereka memainkan peran itu menentukan perbedaan antara tulisan yang sangat baik dibaca, bahkan mungkin mengasyikkan, dan yang sedang-sedang saja (Agee, dalam Soemirat, 2012: 45).

4.      Menulis Naskah
Menulis naskah untuk media massa, termasu cetak itu bergantung kepada bentuk naskah yang hendak ditulis. Secara garis besar bentu-bentuk naskah surat kabar, majalah dan media massa cetak lainnya (termasuk House Journal) adalah bentuk berita, feature/tuturan/karangan khas, news feature, dan artikel.
Berita (news) adalah laporan tentang fakta atau ide yang termasa, yang dipilih oleh staf redaksi suatu media penerbitan untuk disiarkan, yang dapat menarik perhatian pembaca. Hal itu bisa saja karena isi luar biasa, karena pentingnya atau akibatnya, atau juga karena isi mencakup segi-segi human interest, seperti humor, emosi, dan ketegangan (Assegaff, 1993: 24).
Umumnya penulisan naskah berita merupakan hasil liputan seorang reporter/wartawan atau mengutip dari kantor berita dari dalam dan luar negeri. Berita itu kemudian dipilih dan diedit oleh redaktur sebelum dimuat atau diterbitkan.
Teknis menulis berita umumnya menggunakan gaya penulisan piramida terbalik. Hal ini untuk memudahkan khalayakpembaca yang bergegas untuk cepat mengetahui apa yang terjadi dan diberitakan.
Di samping itu, tujuan lain yang sifanya teknis yakni untuk memudahkan para redaktur/editor memotong bagian yang tidak penting pada bagian paling bawah karena terbatasnya ruangan atau untuk memenuhi ruang yang tersedia di media massa. Pada dasarnya gaya piramida terbalik dalam menulis berita diselaraskan dengan karakter khalayak maupun cara kerja reporter yang bergegas dan sigap harus cepat tuntas.
Mengenai berita (stright news) merupakan salah satu bentuk tulisan jurnalistik yaitu tulisan yang berisi laporan langsung yang hanya memuat fakta kejadian dan sarat dengan informasi. Sifat tulisan ini padat, lugas, singkat dan jelas memenuhi unsur-unsur 5W+1H. Berbeda dengan kaidah tulisan lain yang mulai dari yang tidak penting menuju klimaks. Berita dimulai dengan fakta yang paling penting. Struktur berita dikenal dengan piramida terbalik. Semakin ke bawah tulisan itu, isi atau informasi yang disajikan semakin tidak penting, (Sumadiria, 2005:119).
Sedangkan feature, menurut Zain lebih sulit ketimbang menulis berita straight news, sebab harus bermain dengan kata dan data.
Menulis feature agak sulit dibandingkan dengan membuat berita. Hampir merupakan suatu seni tersendiri. Si penulis harus mempunyai kepekaan untuk memilih obyek dan membawakannya secara memikat. Si penulis tidak bosan-bosannya memilih bagian yang yang paling prima untuk tulisannya. Kalaupun beropini, tulisan itu tidak kentara mengemukakan opininya. Feature ibarat sebuah cemeti bertali panjang yang kalau kita layangkan kepada sasaran, yang terkena sasaran malahan merasa nikmat (Zain, 1992: 19).

Menurut Santana dalam buku Menulis Feature (2005:5) mengutip dari Williamson:
A feature story is a creative, sometimes subjective, article designed primarily to entertain and to inform readers of an event, a stuation or an aspect of life,” Hal ini menggambarkan kisah-kisah feature merupakan sesuatu yang tak terduga. Tidak pernah jelas batasnya. Teknik dan deskripsi laporan feature tidak selurus penulisan berita regular. (Santana, 2005:5).

Menulis feature tidak tunduk kepada teknik penulisan dan penyajian fakta seperti yang disyaratkan berita, karena isi tidak terlihat sebagai berita dengan pegangan rumus penulisan 5W+1H.
Assegaff menyebutkan bahwa yang paling baik dalam penulisan feature adalah gaya menulis seperti menulis dalam penulisan “cerpen” yang bagus. Bedanya feature menyajikan fakta yang benar dan sesungguhnya, sedangkan cerita pendek fiksi berupa khalayan. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa kriteria sastra dan bahasa yang berbunga dalam cerpen, juga didapati dalam feature. Syarat penulisan di dalam surat kabar yang mengharuskan penggunaan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti juga harus dijadikan pegangan dalam gaya menulis feature.
Bagi seorang penulis feature yang baik, ungkap Assegaff, tidak boleh mengabaikan tema dari tulisannya. Kalimat-kalimat yang sederhana dan berdasarkan fakta, hendaknya tersusun rapi di dalam alinea/paragraf secara sistematik, sehingga ada suatu kesinambungan dalam membacanya. Di sana sini juga terdapat pula semacam klimaks dan antiklimaks seperti dalam cerpen yang dapat mengikat perhatian pembaca. Hal yang penting adalah alur tulisan harus mengalir begitu pula tidak tersendat-sendat, sehingga pembaca dibawa ke dalam suatu alunan yang tidak terasa dan informasi yang dikehendaki masuk di dalamnya.
News feature yaitu penulisan berita melalui gaya feature. Dalam news feature fakta dikemukakan secara mendalam. Sehingga berita pada suatu surat kabar yang hanya sepintas dimuat, akan diperoleh informasi lainnya yang lebih mendalam pada penulisan news feature seperti pada sebuah majalah berita mingguan.
Menurut Soesono dalam bukunya Dasar-dasar Public Relations, bentuk news feature tumbuh sebagai hasil sampingan dari bentuk penulisan hard news. Berbeda dengan human interest feature yang membicarakan sisi kehidupan pelaku berita, news feature membicarakan kejadiannya, berikut proses timbulnya kejadian itu. Tidak dalam bentuk berita. Tulisan news feature adalah apa yang sekarang dikenal dengan depth news atau investigative news.
Namun yang terpenting dari keseluruhan bentuk tulisan baik strigh news maupun feature adalah gaya penuturan atau gaya penulisan yang sering dikatakan sebagai bahasa jurnalistik. Menurut Sumadiria, dalam buku “Bahasa Jurnalistik” (2006: 13-20) menjelaskan karakter bahasa jurnalistik atau penuturan dalam media dianataranya harus menggunakan bahasa yang sederhana, singkat, padat, lugas, jelas, jernih, menarik, demokratis, populis, logis, gramatikal, menghindari kata tutur, menghindari kata atau istilah asing, pilihan kata atau diksi yang tepat, mengutamakan kalimat aktif, menghindari kata atau istilah teknis, serta tunduk pada kaidah etika.
Sementara menurut Zaenuddin (2011: 147-148) bahasa jurnalistik adalah salah satu ragam bahasa Indonesia, bukanlah bahasa yang berbeda, sehingga harus tetap merujuk pada Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Namun pada intinya bahasa jurnalistik harus singkat, padat, sederhada, jelas, lugas tetapi selalu menarik untuk dibaca.
Lebih ringkas, diutarakan oleh Romli (2004:95) bahasa jurnalistik didasarkan atas kesadaran terbatasnya ruang dan waktu. Untuk ruang yakni kolom dan halaman pada media cetak baik koran maupun majalah, dan waktu lebih pada media elektronik yang dibatasi pada durasi tayang.
5.      Desain dan Layout
Dinyatakan oleh Sutanto sebagaimana yang dikutip oleh Soemirat bahwa perwajahan majalah termat penting, karena akan meningkatkan daya tarik pembaca.
Bidang desain atau perancangan tata rupa majalah, sering disebut bidang artistik, yaitu istilah yang mengacu kepada ikhwal “art” atau “artist”. Istilah ini mengandung makna: keindahan dan keterampilan yang imajinatif. Oleh karena itu, perancangan tata rupa acapkali memang hanya dihubungkan dengan soal keindahan, (Sutanto (1992) dalam Soemirat, 2012:41).

House Journal sebagai salah satu jenis media perusahaan yang tersendiri atau bersifat khusus untuk kalangan tertentu dan terbatas (bukan untuk umum), kadangkala tidak diperjualbelikan. Hal yang terakhir ini tentunya akan memperingan tugas perancangan House Journal, karena tidak usah memikirkan faktor pemasaran/promosi dalam rancangan, ruang iklan, biasanya juga tidak terlalu diperlukan.
Bagian desain House Journal yang perlu diperhatikan adalah:
1.      Kulit (cover), adalah wajah yang harus mampu menarik perhatian, dan membangkitkan keingintahuan calon pembaca.
2.      Daftar isi: halam isi sedapat mungkin dibuat menarik dan mudah ditemukan tempatnya (tidak tersembunyi).
3.      Tulisan utama: halaman ini harus dirancang secara efektif, menarik dan bervariasi dari nomor edisi ke nomor edisi lainnya.
4.      Halaman santai: diperlukan untuk “bernafas”, seringkali justru halaman yang paling dicari oleh pembaca.
5.      Halaman tengah: satu-satunya bagian yang tidak terputus, dapat dimanfaatkan untuk perupaan yang unik menarik. (Soemirat, 2012: 45).
6.      Proses Pencetakan
Dalam menerbitkan House Journal, bisa dalam bentuk elektronik yaitu dengan menggunakan kaset audio, kaset video, dan komputer, bisa juga dalam bentuk cetakan.
Dalam kondisi cetak, proses cetak berarti usaha untuk memproduksi atau menyalin dengan menggunakan suatu alat-alat media atau secara semu dikatakan mencetak (Scheder, dalam Soemirat. 2012:49).
Dewasa ini ada beberapa model pencetakan yang dikenal, antara lain sebagai berikut:
1.      Cetak offset
Pada dasarnya cetak offset berdasarkan pada proses kimiawi seperti ritrografi (saling tolak antara lemak dan air). Cetak offset (termasuk proses cetak di atas) menggunakan plat-plat logam. Proses cetak ini disebut proses cetak tidak langsung.
2.      Letterpress (cetak tinggi)
Pada proses cetak tinggi huruf-huruf teks dan gambar-gambar lebih tinggi daripada yang tidak mencetak. Rol-rol tinta hanya menyentuh bagian-bagian yang tinggi. Tulisan dan gambar kemudian dipindahkan langsung ke atas kertas atau bahan kertas lainnya dengan tekanan yang kuat.
3.      Gravure
Prinsip cetak gravure yaitu semua bagian pencetakan disketsa atau dipahat pada plat tembaga/baja. Setelah itu diberi tinta cetak yang masuk ke bagian yang dalam. Kemudian plat tersebut dibersihkan dengan semacam pisau (doctor-blade), tintanya tinggal di bagian yang dalam (yang lekuk) dan akan dipindahkan ke atas kertas ketika dilakukan pencetakan.
Kelebihan pada cetak gravure yang modern adalah kemungkinan untuk memproduksi terutama foto-foto dan gambar-gambar dengan banyak tingkatan warna. Adapun bagian-bagian peralatan cetak ini adalah : 1) plat tembaga, 2) plat ditintai, 3) pisau membersihkan dari bagian-bagian yang tidak mencetak, 4) dengan tekanan tinggi tinta dipindahkan dari lubang-lubang ke atas.
4.      Screen Printing
Proses cetak ini dipakai terutama jika proses terdahulu tidak bisa terpakai, karena acuan cetaknya tidak tinggi, tidak datar, dan tidak juga dalam. Tetapi pencetakan digunakan dengan menggunakan selembar saring (stensil).
Cetak saring cocok untuk mencetak dalam jumlah kecil dan untuk mencetak logam, kayu, kaca papan, dan lembaran plastik atau bahan sintesis lainnya. Di samping itu juga pada bidang-bidang tak beraturan seperti botol bidang plastik.
 Di samping peralatan cetak saring yang sederhana dengan tangan, digunakan mesin-mesin setengah otomatis atau sepenuhnya otomatis.
5.      Photogelatin atau collotype
Cetak collotype adalah suatu proses foto mekanis yang dipakai untuk memproduksi foto-foto dan lukisan-lukisan. Sistem cetak ini adalah satu-satunya proses cetak yang tidak menggunakan nada lengkap yang sesungguhnya sehingga dengan demikian diperoleh mutu reproduksi yang jauh lebih tinggi mutunya bila dibandingkan dengan proses cetak lainnya.
6.      Flexography
Merupakan proses cetak tinggi, perbedaannya terletak pada tinta yang digunakan adalah tinta anilin yaitu aliran yang tidak membutuhkan distribusi.
7.      Letterset/dry offset
Proses cetak ini merupakan kombinasi antara dua proses dasar cetak di mana piringan mesin cetak (dangkal) menyimpan gambar pada silinder kain dan pencetakan terjadi dari kain. Proses ini dalam pelaksanaannya tanpa menggunakan air dan di sini terjadi pencetakan tidak langsung.
8.      Thermography
Dalam pelaksaannya proses cetak ini menggunakan metode kombinasi, yaitu dimulai dengan mencetak melalui model offset atau letterpress, dengan menggunakan tinta khusus (non drying inks) dan menambahkan bubuk di sekitar gambar.
9.      Elextrostatic Printing
Xerography merupakan salah satu sistem cetak kering yang didasari prinsip elextrostatic. Prinsip ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1948 yaitu Xerography. Meskipun penerapan secara komersil berkembang cepat, namun sebagian besar untuk mesin fotocopy kantor, proses ini menggambarkan suatu perubahan konsep dari yang sebelumnya.
Xerography dalam prosesnya tidak menggunakan tinta. Tanpa tekanan dan bahan kimia untuk mendapatkan reproduksi pada kertas atau permukaan konduksi dan daya listrik digunakan untuk menciptakan salinan gambar.
7.      Pasca Produksi
Setelah tahap produksi selesai, maka dilakukan distribusi. Menurut Jefkins dalam Soemirat (2012:26), pendistribusian House Journal harus diperhiungkan aktualitas penerbitan. Penyampaian House Journal bisa dikirim melalui kurir (ditangani sendiri), via pos, atau digabung dengan sirkulasi pers komersial.
Secara keseluruhan, konsultan humas atau konsultan media akan melakukan hal-hal tersebut di atas dalam proses pendampingan terhadap perusahaan klien. Proses tersebut, harus dilaksanakan karena menyangkut profesionalisme konsultan dalam memberikan pelayanan serta pendampingan kepada perusahaan klien.

No comments:

Post a Comment