Monday, February 16, 2015

Independensi Konsultan Sebagai Pendamping Perusahan



Oleh: Mulyadi Saputra
Beberapa tahun terakhir konsultan atau jasa konsultasi begitu banyak berkembang di dunia. Tak luput pula konsultan pada bidang komunikasi, seperti publik relation/hubungan masyarakat, komunikasi dan lainnya. Jasa konsultan merupakan pemberian advice (petunjuk, pertimbangan, atau nasihat) profesional dalam suatu bidang usaha, kegiatan, atau pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga ahli atau perkumpulan tenaga ahli, yang tidak disertai dengan keterlibatan langsung para tenaga ahli tersebut dalam pelaksanaannya.
Seorang konsultan biasanya seorang ahli atau profesional dalam bidang tertentu dan memiliki pengetahuan yang luas tentang subjek. Konsultan biasanya bekerja untuk sebuah perusahaan konsultan atau bekerja sendiri, Tiap konsultan memiliki filosofi dan framework yang berbeda satu sama lain. Baik itu konsultan individu maupun konsultan yang tergabung dalam perusahaan jasa konsultan. Namun, secara umum, konsultan melakukan pekerjaan seperti pitching, riset, analisis, dan report writing. Siklus tersebut berjalan terus menerus dan berulang.

Adapun macam-macam konsultan yang banyak muncul diantaranya adalah konsultan keuangan, pajak, arsitektur, manajemen, hukum, pendidikan, bisnis, perkawinan dan lain sebagainya. Akan tetapi dalam paper yang sederhana ini tidak akan membahas satu persatu jenis konsultan di atas. Melainkan pembahasan kali ini lebih difokuskan pada gambaran konsultan secara umum.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, konsultan ialah ahli yang tugasnya memberi petunjuk, pertimbangan, atau nasihat dalam suatu kegiatan (penelitian, dagang, dsb); penasihat. Menurut Cutlip, Center dan Broom (2007:83), perusahaan konsultan Humas menekankan pada pelayanan konseling dan perencanaan strategis, yang dianggap lebih professional dibandingkan dengan taktik komunikasi yang diciptakan oleh agen pers dan agen publisitas.
Perusahaan Konsultan Humas semakin berkembang seiring dengan bertambahnya pengakuan dan kenyataan ekonomi global, dan kini Konsultan Humas melayani klien dengan pendekatan baru yaitu terhadap komunikasi konseling yang canggih di dusun global, meskipun sebagian besar pendapatan mereka berasal dari menerapkan aspek taktis, seperti menulis news releases dan mengorganisir special events atau media tour.
Wilcox dan Cameron (2009:112), menjabarkan mengenai pelayanan yang dilakukan serta dikerjakan oleh perusahaan Konsultan Humas dalam memenuhi kebutuhan dan kepentingan klien, diantaranya:
1.      Komunikasi pemasaran (marketing communications). Hal ini meliputi promosi dari produk melalui news releases, feature stories, special events, brosur, dan media tours.
2.      Pelatihan pidato eksekutif (executive speech training). Pihak eksekutif dilatih dalam aktifitas public affairs, termasuk di dalamnya penampilan personal.
3.      Penelitian dan evaluasi (research and evaluation). Berdasarkan surveiilmiah dilakukan untuk mengukur perilaku dan persepsi publik.
4.      Komunikasi krisis (crisis communication). Manajemen diberikan arahan mengenai apa yang harus dikatakan dan dilakukan dalam keadaan daruratn seperti dalam kasus tumpahan minyak atau penarikan kembali produk yang tidak aman.
5.      Analisis media (media analysis). Media yang sesuai adalah media yang telah diperiksa untuk menargetkan pesan yang spesifik kepada audiens inti.
6.      Hubungan komunitas (community relations). Manajemen diarahkan bagaimana cara mencapai dukungan publik untuk proyek-proyek seperti membangun atau memperluas pabrik.
7.      Manajemen Acara (event management). Konferensi pers, anniversary celebration, rallies, symposiums, dan konferensi nasional yang direncanakan dan dilaksanakan.
8.      Urusan publik (public affairs). Bahan material dan testimoni yang dipersiapkan untuk mendengarkan perusahaan dan pengaturan struktur, serta pengarahan latar belakang yang telah dipersiapkan.
9.      Pemberian merek dan reputasi perusahaan (branding and corporate reputation). Saran diberikan dalam program yang membangun sebuah merek perusahaan dan reputasinya untuk suatu kualitas.
10.  Hubungan finansial (financial relations). Manajemen diberikan nasihat mengenai cara untuk menghindari pengambil alihan dari perusahaan lain dan melakukan komunikasi yang efektif dengan steackholders, analis pengamanan, dan institutional investors.
Perusahaan Konsultan Humas, sangat membantu perusahaan dalam membentuk citra dan identitas. Chester Burger dalam buku Effective Public Relations (Cutlip, Center, & Broom, 2007:87), membuat daftar alasan mengapa organisasi menyewa perusahaan Konsultan Humas:
1)      Manajemen belum pernah melakukan program Humas resmi dan kurang berpengalaman dalam menyusun program Humas.
2)      Kantor pusat mungkin berada di lokasi yang jauh dari pusat komunikasi dan keuangan.
3)      Firma atau perusahaan Humas punya jaringan kontak mutakhir yang luas.
4)      Perusahaan Konsultan Humas luar dapat menyediakan orang yang bisa menggantikan eksekutif yang berpengalaman dan spesialis kreatif yang mungkin tidak mau pergi ke kota lain atau yang gajinya terlalu besar.
5)      Organisasi yang memiliki devisi atau departemen Humas sendiri mungkin perlu jasa khusus yang tidak perlu bekerja penuh (full-time) dan terus menerus.
6)      Persoalan kebijakan krusial membutuhkan penilaian independen dari pihak luar.
Melalui pengertian yang ada maka Penelti menyimpulkan bahwa perusahaan konsultan Public Relations merupakan perusahaan jasa, yang menyediakan jasa untuk memenuhi kebutuhan klien melalui pelayanan konseling dan perencanaan yang strategis. Sehingga sangatlah penting dibentuk citra dari perusahaan Konsultan Humas, agar dapat menciptakan persepsi yang baik di mata klien, sehingga dapat menimbulkan kepercayaan dan membangun hubungan yang saling menguntungkan. Namun tentunya, berbeda dengan konsultan yang membari pendampingan pada satu bidang kerja, yang lebih spesifik dari pekerjaan yang ditangani oleh Humas. Misalnya, media, event, perencanaan media periklanan dan lainnya.
Konsultan “Dinamika Komunika” contohnya, perusahaan ini memiliki konsenterasi pekerjaan pada media kehumasan. Mereka mengatakan bahwa konsultan “Dinamika Komunika” merupakan konsultan media, hal ini dikarenakan lingkup kerja konsultan ini yakni memberikan layanan kepada suatu badan usaha, organisasi massa, organisasi profesi dan klien lain yang memerlukan bantuan pengerjaan media komunikasi internal berupa majalah, buletin, tabloid atau bentuk media cetak lain.
Pekerjaan tersebut sejak perancangan awal, peliputan-penulisan-penyuntingan berita, pemotretan, desain lay out hingga menjadi media cetak yang siap di distribusikan oleh klien. Mendesain dan mencetak media komunikasi untuk promosi dan kepentingan lainnya dalam bentuk Company Profile, Brosur, Katalog, Flyer, Leaflet, Booklet, dan lain – lain[1].
Keith Butterick menuturkan, konsultan yakni suatu perusahaan yang bekerja bagi sejumlah klien yang sering meliputi sector-sektor yang berbeda, meskipun salah satu ciri konsultan modern adalah meningkatkan spesialisasinya pada sektor-sektor tertentu yang lebih sepesifik (Butterick, 2013:125).
Senada dengan pendapat tersebut, Wikipedia mendefinisikan bahwa selain konsultan Publik Relations atau Hubungan Masyarakat, kini juga dikenal konsultan media, yang merupakan bagian dalam lingkup Humas baik dalam lingkup perusahaan bisnis maupun politik.
A media Consultant is a marketing agent or Public Relations executive, hired by businesses or political candidates to obtain positive press coverage. Media Consultants usually draft press releases to highlight positive achievements of a business, organization, or individual. In politics, Media consultants create ad campaigns designed to plant a desired image in the minds of voters.[2]

            Meski hingga saat ini belum banyak dipahami, yang dimaksud dengan konsultan media tersebut. Namun Peneliti menyimpulkan bahwa, konsultan media merupakan perusahaan yang bergerak pada bidang jasa konsultasi, yang memiliki bidang kerja melingkupi pendampingan terhadap klien-kliennya dalam pengelolaan media, yang didalamnya termasuk media internal (in house magazine), company profile, dan perencanaan media.
            Terlepas apakah konsultan media atau konsultan Humas, perusahaan konsultan juga memiliki aturan main dan kode etik serta independensi dalam menjalankan praktik konsultasinya. Sebagaimana yang diuarakan oleh Ruslan (2011:XIV), setiap profesi memiliki kode etik profesi yang mengikat para anggotanya secara etis, moral, dan profesionalisme yang harus ditaati atau dipatuhi dalam menjalankan aktivitas, peran, dan fungsinya. Khususnya professional Humas, kode etik yang berlaku merujuk pada International Public Relations Associations (IPRA) sebagai berikut:
1.      Integritas pribadi dan profesionalisme,
2.      Prilaku terhadap klien dan majikan,
3.      Perilaku terhadap media dan umum, dan
4.      Prilaku terhadap rekan seprofesi (Ruslan, 2011:XIV).
Dalam kaitannya dengan independensi konsultan dilingkup Humas, ada beberapa etika yang harus dipatuhi oleh perusahaan humas, termasuk konsultan-konsultan yang bergelut dalam bidang Humas. Salah satunya yakni etika profesi yang dikeluarkan oleh Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI). Asosiasi ini yang dibentuk 10 April 1987 ini merupakan sebuah organisasi yang berbentuk asosiasi dari perusahaan-perusahaan public relations/hubungan masyarakat nasional yang independen.
Isi dari kode etik profesi APPRI tak lain mengusung norma-norma yang harus dipatuhi oleh penyelenggara perusahaan public relations. Menyangkut pembahasan dalam penelitian ini, seperti yang tercantum pada Pasal 2 tentang penyebaran informasi.
Seorang anggota tidak akan menyebarluaskan, secara sengaja dan tidak disengaja dan tidak bertanggung jawab, informasi yang palsu atau menyesatkan, dan sebaliknya justru akan berusaha sekeras mungkin untuk mencegah terjadinya hal tersebut. Ia berkewajiban untuk menjaga integritas dan ketepatan informasi[3].

Lalu pada pasal 3 tentang media komunikasi:
           
Seorang anggota tidak akan melaksanakan kegiatan yang dapat merugikan integritas media komunikasi[4].

Konsultan juga dianggap sebagai penasehat, sehingga harus mematuhi berbagai hal menyangkut moral, seperti yang ditarakan oleh Marwoto (1995:143):
Kewajiban konsultan terhadap masyarakat umum, adalah menyangkut moral yang berlandaskan pada kesadaran sosial dan tanggung jawab terhadap kepentingan umum. Dalam semua aspek dari pekerjaan dan produknya, konsultan harus menjunjung tinggi kewajibannya terhadap kehidupan manusia dan memperhitungkan semua akibat atau dampak pekerjaan dan produknya terhadap lingkungan hidup, kesejahteraan, keamanan dan ketentraman masyarakat umum.

Oleh sebab itu, perusahaan konsultan sewajarnya harus bersikap independen, tidak memihak dan profesional dalam rangka mendampingi klien. Pada bidang media, seperti halnya Konsultan ‘Dinamika Komunika’, sudah menjadi keharusan, untuk bersikap independen, sehingga media (In house magazine) yang diterbitkan, memberikan informasi berimbang bagi masyarakat umum maupun lingkup terbatas. Tetapi apakah ini benar dilakukan atau hanya aturan tertulis semata?
Menyangkut proses pendampingan, maka terlebih dahulu untuk mengetahui pengertian pendampingan itu sendiri. Istilah pendampingan berasal dari kata kerja “damping” dan “mendampingi” yaitu suatu kegiatan menolong yang karena sesuatu sebab butuh didampingi. Sebelum itu istilah yang banyak dipakai adalah “Pembinaan”. Ketika istilah pembinaan ini dipakai terkesan ada tingkatan yaitu ada pembina dan ada yang dibina, pembinaan adalah orang atau lembaga yang melakukan pembinaan. Kesan lain yang muncul adalah pembina yang merupakan pihak yang aktif sedangkan yang dibina lebih dikenal pasif atau pembina adalah sebagai subyek dan yang dibina adalah obyek[5].
Jika merunut pada pengertian pendampingan tersebut, maka Konsultan memberikan pendampingan terhadap Humas perusahaan dalam rangka membina dan memberikan masukan serta saran agar dalam hal pengelolaan media internal dapat lebih baik. Lebih baik dalam artian media yang dibuat sesuai kaidah dan kode etik baik humas, jurnalistik maupun undang-undang yang berlaku.
Menurut Wikipedia, Independen (sering disingkatkan menjadi indie), dapat berarti 'bebas', 'merdeka' atau 'berdiri sendiri'[6]. Sedangkan netral[7] adalah tidak memihak pada satu kubu atau bagian lain, atau pada posisi ditengah-tengah. Sehingga terdapat perbedaan signifikan antara independen dan netral. Namun banyak orang yang mengartikan dan berpemahaman bahwa independen adalah netral.
Independensi adalah suatu keadaan atau posisi dimana kita tidak terikat dengan pihak manapun. Artinya keberadaan kita adalah mandiri. tidak mengusung kepentingan pihak tertentu atau organisasi tertentu[8].

Sehingga dalam proses konsultan yang melakukan kegiatan dan pekerjaan pada ranah pendampingan, independensi dapat artikan bahwa stau perusahaan konsultan tidak pada posisi menjadi perusahaan klien melainkan berdisi sendiri dan bebas. Oleh sebab itu, konsultan bisa dikatakan tidak netral tetapi tetap independen. Mendampingi klien bisa lebih banyak dipahami keberpihakan terhadap klien. Oleh sebab itu, independensi disini bukan tidak berpihak sama sekali (netal), tetapi lebih pada keberpihakan yang bertanggungjawab dan tetap bebas dan berdiri sendiri. Tidak menyudutkan lawan atau pesaing perusahaan klien, lebih kepada apa adanya dan tidak mengada-ngada.


[1] Company Profile “Dinamika Komunika”: 2011.
[2] http://en.wikipedia.org/wiki/Media_consultant (diakses: 10 Januari 2014 pukul: 22:16).
[3] Kode Etik Profesi APPRI
[4] Kode Etik Profesi APPRI
[5] Kamus Besar Bahasa Indonesia, Depdikbud, 2012.
[6] http://id.wikipedia.org/wiki/Independen diakses 28 Juni 2014 pukul 22:29
[7] Kamus Besar Bahasa Indonesia, Depdikbud, 2012.

1 comment:

  1. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kbagi.com untuk info selengkapnya.

    Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    ReplyDelete