Saturday, March 30, 2013

Pendekatan Psikologi dalam Komunikasi


Menurut Fisher (dalam Jalaludin Rahmat ‘Psikologi Komunikasi’ dan Nina W. Syam ‘Psikologi Sebagai Akar ilmu Komunikasi’ ) pendekatan psikologi komunikasi memiliki empat ciri-ciri, yang pertama, adalah  Penerimaan Stimuli Secara Inderawi (Sensory Reception of Stimuly). Kedua, Proses yang Mengantarai Stimuli dan Respons (Internal Mediation Of Stimuli). Ketiga, Prediksi Respons (Prediction of Response). Keempat, Peneguhan Response (Reinforcement of Response).

Dari empat ciri tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.      Penerimaan Stimuli Secara Inderawi (Sensory Reception of Stimuly).
Pada proses ini komunikasi diawali atau bermula ketika panca indra kita diterpa oleh stimuli, panca indra tersebut yakni mata, hidung, telinga, kulit, dan mulut. Stimuli bisa berbentuk orang, pesan, suara, warna, dan sebagainya; pokoknya segala hal yang mempengaruhi kita.
b.      Proses yang Mengantarai Stimuli dan Respons (Internal Mediation Of Stimuli). 
Pada ciri pendekatan ini, stimuli yang ditangkap oleh alat indera, kemudian diolah dalam otak.  Kita hanya mengambil kesimpulan tentang proses yang terjadi pada otak dari respons yang tampak.  Melalui tanda-tanda yang diketahui, seperti tersenyum, tepuk tangan, dan meloncat-loncat, yang memiliki arti sedang gembira.
c.       Prediksi Respons (Prediction of Response).
Pada pendekatan ciri ini, Respons yang terjadi pada masa lalu dapat dapat dilihat serta dapat diramal responya untuk masala mendatang. Kuncinya, harus mengetahui sejarah respons terdahulu, sebelum meramalkan respons individu saat ini.
d.      Peneguhan Response (Reinforcement of Response)
Pada pendekatan ciri ini timbul perhatian pada gudang memori (memori storage) dan set (penghubung masa lalu dan masa sekarang).  Salah satu unsur sejarah respons ialah peneguhan.  Peneguhan adalah respons lingkungan (atau orang lain pada respons organisme yang asli).  Berger dan Lambert menyebutnya feedback (umpan balik), tetapi Fisher tetap menyebutnya Peneguhan.
Menurut George A. Miller, psikologi komunikasi adalah ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan, dan mengendalikan peristiwa mental dan perilaku komunikasi individu. Peristiwa mental adalah proses yang mengantarai stimuli dan respons (internal mediation of stimuli) yang berlangsung sebagai akibat belangsungnya komunikasi.
Namun, Prof. Nina W. Syam, pada Buku Psikologi Sebagai Akar Ilmu Komunikasi, memaparkan bahawa dalam psikologi komunikasi yang terpenting adalah gejala kejiwaan yang ada pada aliran psikologi, yang sangat bermanfaat untuk menganalisis proses komunikasi interpersonal, ketika orang sedang melakukan proses interpretasi dari suatu stimulus, mulai dari sensasi, asosiasi, persepsi, memori, sampai dengan berfikir, baik untuk pekerjaan mengirim maupun menerima pesan.

Ciri-ciri pendekatan psikologi komunikasi, terlihat bagaimana psikologi komunikasi memakai perspektif keilmuan lain dan sekaligus pula menggambarkan menggambarkan kemandirian psikologi komunikasi sendiri sebagai sebuah disiplin keilmuan. Dari gambaran itu dapat dikemukakan  bagaimana tujuan umum psikologi komunikasi.

Tujuan Psikologi Komunikasi Secara Umum
·            Psikologi meneliti kesadaran dan pengalaman manusia. Hal tersebut diarahkan pada pusat perhatian perilaku manusia dan mencoba menyimpulkan proses kesadaran yang menyebabkan terjadinya perilaku manusia itu. Psikologi pada perilaku individu komunikan. Ketika akan melakukan komunikasi, tak bisa dipungkiri membutuhkan pihak lain sebagai pendengar atau komunikan untuk merespon pesan yang disampaikan.
·            Psikologi komunikasi juga melihat bagaimana respon yang terjadi pada masa lalu dapat meramalkan respon yang terjadi pada masa yang akan datang. George A. Miller membuat definisi psikologi yang mencakup semuanya: Psychology is the science that attempts to describe, predict, and control mental and behavioral event. Dengan demikian, psikologi komunikasi adalah imu yang berusaha menguraikan, meramalkan, dan mengendalikan persistiwa mental dan behavioral dalam komunikasi. Peristiwa mental adalah ”internal meditation of stimuli”, sebagai akibat berlangsungya komunikasi. Komunikasi adalah peristiwa sosial, peristiwa yang terjadi ketika manusa berinteraksi dengan manusia yang lain. Peristiwa sosial secara psikologis membawa kita pada psikologi sosial. Pendekatan psikologi sosial adalah juga pendekatan psikologi komunikasi.
·            Konsep ini menunjukkan bahwa psikologi komunikasi sangat berperan dalam perubahan perilaku manusia, terutama saat manusia berkomunikasi dengan manusia lain, baik yang sifatnya interpersonal, kelompok, maupun massa.  Ketika seseorang memahami dan mengerti psikologi komunikasi, saat komunikasi berlangsung antara komunikator dan komunikan, orang mampu melihat dan menganalisis gerak dan tingkah kedua komponen tersebut, yang berbicara dan yang mendengar. Dengan menganalisis pandangan ini, maka peran ilmu psikologi komunikasi dalam perkembangan masyarakat dan pengetahuan cukup besar.

Kepribadian Manusia
Kepribadian manusia terbentuk dan berkembang melalui komunikasi. Sehingga melalui komunikasi seorang individu menemukan dirinya sendiri, mengembangkan konsep diri, dan menetapkan dirinya dengan lingkungan sekitarnya. Hubungan tersebut menentukan kualitas hidupnya sendiri. Kegagalan berkomunikasi akan berakibat buruk pada proses pembentukan kepribadian seseorang. Untuk itu setiap individu memerlukan keterampilan dan kemampuan sehingga dapat berkomunikasi yang efektif. Psikologi komunikasi bertujuan untuk memahami tanda-tanda komunikasi yang efektif.
Dalam berbagai bentuk kontekstualnya, komunikasi merupakan peristiwa psikologi dalam diri masing-masing peserta komunikasi, seperti yang terungkap dalam berbagai teori seperti teroi simbolis atau yang lainnya. Dengan kata lain, psikologi mencoba menganalisis seluruh komponen yang terlibat dalam proses komunikasi. Pada diri komunikan, psikologi menganalisis karakteristik manusia komunikan serta faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi prilaku komunikasinya. Sedangkan pada diri komunikator, psikologi melacak sifat-sifatnya dan bertanya, apa yang menyebabkan satu sumber komunikasi berhasil dalam mempengaruhi orang lain, sementara sumber komunikasi yang lain tidak.
Ada lima cirri-ciri komunikasi efektif:
a)      Psikologi komunikasi dapat memberikan pengertian, yakni penerimaan yang cermat dari isi stimulus seperti yang dimaksudkan oleh komunikator.
b)      Psikologi komunikasi dapat memberikan kesenangan, yakni komunikasi fatis (phatis communication), dimaksudkan memenimbulkan kesenangan.
c)      Psikologi komunikasi dapat mempengaruhi sikap, dimana komunikasi persuasif memerlukan pemahaman tentang faktor-faktor pada diri komunikator, dan pesan yang menimbulkan efek pada komunikate.
d)     Psikologi komunikasi dapat membentuk hubungan sosial yang baik, dalam hal ini manusia adalah makhluk sosial yang tidak tahan hidup sendiri.
e)      Psikologi komunikasi mampu mempengaruhi tindakan, seperti sifat persuasif yang juga ditunjukan untuk melahirkan tindakan yang dihendaki.

Ruang Lingkup psikologi komunikasi berdaskan unsur-unsur ; Komunikator, Pesan, Komunikan
           
·         Komunikator
Ruang lingkup psikologi komunikasi dalam unsur komunikator terutama berbicara terhadap kemampuan dalam mempersuasi komunikan.  Menurut Onong Uchjana Effendy dalam Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi, tujuan komunikator secara teologis yaitu mengubah sikap, opini, perilaku, kepercayaan, ataupun agama, karenanya ruang lingkup dalam memahami unsur komunikator sangatlah luas. 
Menurut Jalaluddin Rakhmat, ketika komunikator berkomunikasi yang berpengaruh bukan saja apa yang ia katakan tetapi juga keadaan dia sendiri.  He doesn’t communicate what he says, he communicate what he is (dalam Jalaludin Rahmat Psikologi Komunikasi).  Ia tidak menyuruh pendengar memperhatikan apa yang ia katakan, pendengar juga akan memperhatikan siapa yang mengatakan.  Kadang-kadang siapa lebih penting dari apa.
Aristoteles menyatakan, bahwa persuasi tercapai karena karakteristik personal pembicara, yang ketika ia menyampaikan pembicaraannya kita menganggap dapat dipercaya.  Kita lebih penuh dan lebih cepat percaya pada orang-orang yang baik daripada orang lain : Ini berlaku umumnya pada masalah apa saja dan secara mutlak berlaku ketika tidak mungkin ada kepastian dan pendapat terbagi.  Tidak benar, anggapan sementara penulis retorika bahwa kebaikan personal yang diungkapkan pembicara tidak berpengaruh apa-apa pada kekuatan persuasinya ; sebaliknya karakternya hampir bisa disebut sebagai alat persuasi yang paling efektif yang dimilikinya (dalam Prof. Jalaludin Rahmat Psikologi Komunikasi).
Aristoteles menyebut karakter personal pembicara sebagai Ethos.  Ethos terdiri dari pikiran baik, akhlak yang baik, dan maksud yang baik (good sense, good moral character, good will).  Nina Syam menyatakan bahwa Ethos mengajarkan para ilmuwan tentang pentingnya rambu-ramnu normatif dalam perkembangan ilmu yang merupakan kunci utama bagi hubungan antara produk ilmu dengan user (Prof. Nina W. Syam).
Hovland dan Weis (dalam Jalaludin Rahmat Psikologi Komunikasi), menyebut ethos ini credibility yang terdiri dari Expertise (keahlian) dan trustworthiness (dapat dipercaya).  Nasihat dokter kita ikuti, karena dokter memiliki keahlian.  Tetapi omongan pedagang yang memuji barangnya agak sukar kita percayai karena kita meragukan kejujurannya karena tidak memiliki trustworthiness.  Jalaluddin Rakhmat mengatakan ethos terdiri dari kredibilitas, atraksi, dam kekuasaan, sebagai penghormatan pada Aristoteles.
Kredibilitas adalah seperangkat persepsi komunikate tentang sifat-sifat komunikator, artinya tidak inheren dalam diri komunikator dan berkenaan dengan sifat-sifat komunikator karena kredibilitas itu masalah persepsi. Kredibilitas berubah bergantung pada pada pelaku persepsi (komunikate), topik yang dibahas, dan situasi.  Hal-hal yang mempengaruhi persepsi komunikate tentang komunikator sebelum ia berlakukan komunikasinya disebut Prior Ethos.
Sumber komunikasi memperoleh prior ethos karena berbagai hal, kita membentuk gambaran tentang diri komunikator dari pengalaman langsung dengan komunikator atau dari pengalaman wakilan (vicarious experience).  Ada dua komponen yang paling penting berkaitan dengan kredibilitas ialah keahlian dan kepercayaan.  Keahlian adalah kesan yang dibentuk komunikate tentang kemampuan komunikator dalam hubungannya dengan topik yang dibicarakan.  Kepercayaan adalah kesan komunikate tentang komunikator yang berkaitan dengan wataknya.
Atraksi berkaitan dengan daya tarik fisik, ganjaran, kesamaan, dan kemampuan.  Kita cenderung menyenangi orang-orang yang tampan atau cantik, yang banyak kesamaannya dengan kita, dan memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari kita (dalam Jalaludin Rahmat Psikologi Komunikasi).  Shelly Chaiken, seorang psikolog cantik dari University of Massachusets, menelaah pengaruh kecantikan komunikator terhadap persuasi dengan studi lapangan.  Ia mengkritik penelitian laboratorium yang meragukan pengaruh atraksi fisik.  Atraksi fisik menyebabkan komunikator menarik, dan karena menarik ia memiliki daya persuasif.
Kekuasaan dalam kerangka teori Kelman, adalah kemampuan menimbulkan ketundukan.  Ketundukan timbul dari interaksi antara komunikator dan komunikate.  Kekuasaan menyebabkan seorang komunikator dapat memaksakan kehendaknya kepada orang lain, karena ia memiliki sumber daya yang sangat penting.  French dan Raven (dalam Jalaludin Rahmat Psikologi Komunikasi) menghasilkan lima klasifikasi kekuasaan, yaitu : Kekuasaan koersif, kekuasaan keahlian, kekuasaan informasional, kekuasaan rujukan, dan kekuasaan legal.  Apa pun jenis kekuasaan yang dipergunakan, ketundukan adalah pengaruh yang paling lemah dibandingkan dengan identifikasi dan internalisasi.  Dengan begitu, kekuasaan sepatutnya digunakan setelah kredibilitas dan atraksi komunikator.

·         Pesan
Berbicara tentang pesan tidak terlepas dari kekuatan bahasa, kekuatan kata-kata, the power of words.  Inilah yang membedakan manusia dengan hewan.  Kitab suci Al-Qur’an menyebutkan penciptaan manusia dengan mengatakan, “Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai bicara.” (55 : 2-3).
Manusia mengucapkan kata-kata dan kalimat dengan cara-cara tertentu.  Setiap cara berkata memberikan maksud tertentu.  Cara-cara ini kita sebut Pesan Paralinguistik.  Tetapi manusia juga menyampaikan pesan dengan cara-cara lain selain dengan bahasa, misalnya dengan isyarat ; ini disebut Pesan Ekstralinguistik.
Hubungan antara bahasa dengan proses berpikir dikemukakan dalam teori Whorf (Whorfian Hyphotesis).  Secara singkat teori ini dapat disimpulkan bahwa pandangan kita tentang dunia di bentuk oleh bahasa ; dan karena berbeda bahasa, pandangan kita tentang dunia pun berbeda pula (dalam Jalaludin Rahmat Psikologi Komunikasi).  Secara selektif, kita menyaring data sensori yang masuk seperti yang telah diprogram oleh bahasa yang kita pakai.  Dengan begitu, masyarakat yang menggunakan bahasa yang berbeda hidup dalam dunia sensori yang berbeda pula.  Misalnya orang Sunda mempunyai sekian banyak perasaan yang dapat diungkapkan dalam bahasa Sunda, tetapi tidak ada dalam bahasa Indonesia.
Aristoteles menyatakan bahwa pesan terdiri dari organisasi pesan, struktur, dan imbauan pesan.    Organisasi pesan kaitannya dengan sistematika penulisan, yang terdiri dari : deduktif, induktif, kronologis, logis, spasial, dan topikal.  Alan H. Monroe (Rakhmat, 1991:297) menyarankan lima langkah penyusunan pesan : attention (perhatian), need (kebutuhan), satisfaction (pemuasan), visualization (visualisasi), dan action (tindakan).  Imbauan pesan kaitannya dengan isi pesan, yang terdiri dari imbauan rasional, imbauan emosional, imbauan takut, imbauan ganjaran, dan imbauan motivasional.
·         Komunikan 
Kajian komunikasi yang paling sering adalah pada unsur komunikan terutama perilaku atau reaksi komunikan.  Pada diri komunikan atau komunikate, psokolog memberikan karakteristik manusia komunikan serta faktor-faktor internal maupun eksternal yang mempengaruhi perilaku komunikasinya.  Seorang psikolog, memandang komunikasi pada perilaku manusia komunikan.  Tugas ahli linguistiklah yang membahas komponen-komponen yang membentuk struktur pesan.  Tugas ahli tekniklah yang menganalisa beberapa ‘noise’, yang terjadi di jalan sebelum pasan sampai pada komunikan, dan beberapa pesan yang hilang.  Psikologi mulai masuk ketika membicarakan bagaimana manusia memproses pesan yang diterimanya dan bagaimana cara berpikir dan cara melihat manusia dipengaruhi oleh lambang-lambang yang dimiliki.
Melalui komunikasi kita menemukan diri kita, mengembangkan konsep diri, dan menetapkan hubungan kita dengan dunia di sekita kita.  Hubungan kita dengan orang lain akan menentukan kualitas hidup.  Bila orang lain atau komunikan tidak memahami gagasan Anda, bila pesan Anda menjengkelkan mereka, bila Anda tidak berhasil mengatasi masalah pelik karena komunikan menentang pendapat Anda dan tidak mau membantu Anda, maka Anda telah gagal dalam berkomunikasi.  Maka dari itu peranan komunikan atau komunikate sangat penting dalam keberhasilan suatu komunikasi.  Komunikasi itu berhasil apabila adanya persamaan persepsi atau makna antara komunikator dengan komunikate (R/S = 1).  Maka dari itu salah satu fokus utama dari psikologi komunikasi yaitu komunikan atau komunikate.
Tujuan dari unsur-unsur di atas
·         Komunikan: bertujuan untuk mengetahui karakteristik manusia kamunikan dan faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi prilaku komunikasinya.
·         Komunikator: bertujuan untuk melacak sifat-siaptnya, apa yang menyebabkan satu sumber komunikasi berhasil dalam mempengaruhi orang lain atau sebaliknya.
·         Pesan: bertujuan untuk meneliti komunikasi diantara individu, meneliti lambang-lambang yang disampaikan, dan meneliti proses mengungkapkan pikiran.

Beberapa teori psikologi tentang prilaku komunikasi, meringkaskan empat konsepsi teoritik psikologi, yang mempengaruhi teori-teori tentang perilaku komunikasi, psikoanalisis, behaviorisme, psikologi kognitif dan humanistis. Dilihat dari Pandangan Islam
Teori psikologi tentang prilaku komunikasi dan pandangan dari kaca mata Islam.
a)      Behaviorisme
Behaviorisme adalah sebuah aliran dalam psikologi yang didirikan oleh John B. Watson pada tahun 1913 yang berpendapat bahwa perilaku harus merupakan unsur subyek tunggal psikologi. Behaviorisme merupakan aliran revolusioner, kuat dan berpengaruh, serta memiliki akar sejarah yang cukup dalam. Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan subjektif) dan juga psikoanalisis (yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak). Behaviorisme ingin menganalisis bahwa perilaku yang nampak saja yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Belakangan, kaum behaviorist lebih dikenal dengan teori belajar, karena menurut mereka, seluruh perilaku manusia, kecuali insting, adalah hasil belajar.
Ajaran islam diharapkan dapat mengkaji perilaku dengan cara mempertimbangkan jiwa dan badan, perilaku manusia hanya merupakan interpretasi dari kejiwaan manusia. Jadi tidak hanya dari satu aspek saja. Yang diperkuat dengan pendapat dari M. Ramli, yaitu: “Al-Yauma akmaltu lakum dinakum wa atmamtu ‘alaikum nikmati wa radhitu islami dina”. Artinya: dalam aliran behaviorisme, terujinya suatu kejiwaan manusia dengan suatu eksperimental. Aliran behaviorisme mempelajari terbentuknya perilaku manusia berdasarkan konsep stimulus dan respon, yang berarti perilaku manusia sangat terkondisi oleh lingkungan. Satu–satunya motivasi yang mendorong manusia bertingkah laku adalah penyesuaian diri dengan lingkungan. Konsep ini mengisyaratkan bahwa ketika manusia dilahirkan, ia tidak membawa bakat apa–apa dan mengingkari potensi alami manusia.
Aliran behaviorisme menolak determinan perilaku manusia, karena manusia berkembang atas dasar stimulasi dari lingkungannya. Pandangan ini beranggapan bahwa manusia tidak memiliki kesempatan untuk menentukan dirinya sendiri, oleh karena itu aliran ini memiliki kecenderungan untuk mereduksi manusia. Artinya, manusia tidak memiliki jiwa kemauan dan kebebeasan untuk menentukan pilihannya sendiri. Dalam hal ini kiranya perlu dipertimbangkan bahwa manusia sebagai makhluk hedonis, padahal manusia juga memiliki kehendak untuk mengabdi pada Tuhannya dengan tulus ikhlas dan penuh kesadaran. Pandangan ini mengangkat derajat manusia ke tempat yang teramat tinggi. Ia seakan-akan pemilik akal budi yang hebat serta kebebebasan penuh untuk berbuat sesuatu yang dianggap baik dan sesuai dengan dirinya. 
b)      Psikoanalis
Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang tokoh berkewarganegaraan Austria yaitu Sigmund Freud (1856 – 1939). Teori ini dapat dikatakan sebagai aliran psikologi yang paling berpengaruh dan yang paling terkenal karena mempunyai landasan teori yang unik, teori ini berasumsi bahwa pada diri manusia terdapat 3 aspek kejiwaan consciousness, preconsciousness dan unconsciousness. Dari ketiga aspek tersebut, unconsciousness merupakan aspek yang paling berpengaruh dan dominan dalam menentukan tingkah laku manusia. Di dalam unconsciousness tersimpan ingatan masa kecil, energy psikis dan instink. Preconsciousness berperan sebagai penghubung antara consciousness dan unconsciousness yang berisi ingatan dan ide yang dapat digunakan kapan saja. Sedangkan consciousness hanyalah sebagian kecil dari struktur kesadaran namun di bagian inilah mind berinteraksi langsung dengan realitas.
Kemudian setelah mengembangkan struktur kesadaran di atas, freud mengembangkan pula struktur kepribadian yang dikenal dengan mind apparatus yaitu :
1.      Id (Das Es) adalah berbagai potensi/komponen yang dibawa sejak lahir, berupa  impuls, agresif, insting dan dorongan dasar (makan, minum, seks, menyerang, dan bertahan) di mana sistem kerjanya adalah prinsip kenikmatan dan kesenangan
2.      Ego (Das Ich) berfungsi merealisasikan kebutuhan-kebutuhan id dengan jalan memilih bentuk pemuasan kenikmatan yang benar-benar nyata tersedia di lingkungan dan cara mendapatkannya pun sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Dengan demikian pada sistemcego berlaku prinsip realitas.
3.      Superego (Das Ueber Ich) adalah bagian moral dari kepribadian manusia, karena ia merupakan filter dari sensor baik buruk, salah benar, boleh tidak boleh. Maksudnya bahwa superego menuntut kesempurnaan dan idealitas perilaku dengan tolok ukur ketaatan mutlak terhadap norma-norma lingkungan.. Oleh karena itu dikatakan bahwa pada superego berlaku prinsip idealitas. (Nina W.Syam: 2011:56).
Kepribadian menurut islam adalah totalitas dari kegiatan komponen-komponen dalam kesatuan lingkungan jasmaniah – ruhaniah yang terbina melalui ta’dibiyah, tarbiyah, pengalaman dan pengaruh lingkungan hidup yang membentuk cara-cara berpikir, berkehendak, berperasaan dan bertingkah laku, yang menjadi ciri khas sikap mental dan citra seseorang dalam menghadapi sesuatu.
Semua hal tersebut di atas digerakkan oleh ruh, sesuatu kekuatan yang menyebabkan kehidupan pada benda-benda. Dari ruh ini timbullah akal, hati nurani, nafsu, hawa dan perasaan. Kelima hal tersebut merupakan komponen atau organ ruhaniah:
1.      Akal, sesuatu yang halus yang mengerti segala sesuatu untuk menangkap segala ilmu pada diri manusia.
2.      Hati nurani (kalbu) mempunyai dua arti, yakni fisik dan metafisik. Kalbu dalam arti fisik adalah jantung, berupa segumpal daging berbentuk lonjong, terletak dalam rongga dada sebelah kiri. Sedangkan dalam arti metafisik yaitu tempat benih iman dan instink ruhaniah, keyakinan atau instink rabbani sebagai hidayah nalurii dari Alloh yang diberikan sejak alam arwah (QS Al A’raf 172 dan QS Ar Rum 30) Hati nurani inilah sebagai sumber suara hati yang selalu memberikan suara halusnya yang berasal dari bisikan malaikat sebagai petunjuk dari Alloh SWT, jika baik dikerjakan, jika jelek ditinggalkan.
3.      Nafsu, nafsu mengandung dua arti pula, arti yang pertama adalah dorongan agresif (ganas) dan doronga erotic (birahi) yang bisa menjadi sumber malapetaka dan kekacauan bila tak dikendalikan dan diadabkan. Adapun nafsu dalam arti kedua adalah nafs almutmainnah yang lembut dan tenang serta diundang oleh Alloh sendiri untuk masuk ke dalam surga-Nya (QS Al-Fajar: 27 – 28. Essensinya bahwa nafsu adalah tempat timbulnya keinginan yang di dorong oleh motif dari luar maupun dari dalam. Nafsu inilah yang menimbulkan berbagai macam kreativitas untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.
4.      Hawa, keinginan lebih yang menimbulkan sifat serakah pada manusia, selalu merasa kekurangan, keluh kesah dan kikir.
5.      Perasaan, komponen jiwa yang selalu memberikan evaluasi dan menanggung akibat yang ditimbulkan oleh peristiwa kejiwaan.
Proses pengendalian diri (jihadun nafs) ini diperankan oleh akal sebagai pemimpin dalam perebutan untuk mempengaruhi nafsu, pilihan antara bisikan malaikat melalui hati nurani dan bisikan syetan melalui hawa yang akan menentukan kualitas kepribadian manusia tersebut. Jika nafsu tersebut lebih dominan pada bisikan malaikat (hati nurani), maka tingkah lakunya akan selalu dihiasi perbuatan baik. Namun jika nafsu lebih condong pada bisikan syetan (hawa), maka tingkah lakunya akan selalu dihiasi perbuatan buruk.
c)      Psikologi Kognitif
Psikologi Kognitif adalah studi tentang proses mental yang mendasari kemampuan kita mempersepsikan dunia, memahami dan mengingat pengalaman kita, berkomunikasi dengan orang lain, dan mengendalikan perilaku kita. Aliran psikologi kognitif menempatkan manusia sebagai makhluk yang bereaksi secara aktif terhadap lingkungannya dengan cara berfikir. Psikologi kognitif mempelajari bagaimana arus informasi ditangkap oleh alat indera yang diproses dalam jiwa seseorang sebelum diwujudkan dalam bentuk tingkah laku. Akan tetapi, dalam aplikasinya reaksi yang timbul tidak hanya yang nyata tetapi juga dalam bentuk atau berupa ingatan. Dalam konsep ini manusia orang yang secara sadar memecahkan permasalahan atau persoalan. Sehingga dalam aliran ini manusia disebut sebagai homo sapiens yaitu manusia yang berfikir.
Akal adalah karunia Allah Swt yang besar bagi manusia. Agama Islam berisi pedoman bagi manusia yang berakal, hanya manusia yang berakal dan berilmu saja yang dapat mengambil pelajaran dari penciptaan langit dan bumi. Terdapat dalam surat al-Ankabut ayat 49 yang artinya Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-rang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.
Hubungan Surat al-Ankabuut ayat 49 dengan kognitif.Ahli-ahli psikologi kognitif dalam banyak penelitiannya, mempercayai bahwa kejiwaan dan tingkahlaku manusia banyak dipengaruhi oleh faktor kognitif yang merupakan pusat berfikir (akal), selanjutnya menjadi motor penggerak jiwa dan tingkahlaku manusia. Permasalahan hidup dikendalikan oleh otak manusia, maka kemudian muncullah berbagai teori tentang kognitif. Dari teori kemudian menghasilkan program-program atau rancangan untuk mengatasi persoalan hidup. Pada dasarnya teori-teori kognitif yang dibangun oleh barat, banyak dipengaruhi pemikiran ahli filsafat Aristoteles yang mengatakan” Manusia dan dunianya seperti arloji, sekiranya ada kerusakan pada arloji tersebut, cukup mengganti bagian yang rusak itu.” Artinya manusia sangat menjadi mekanistik dan segala persoalannya menjadi sangat sederhana.
Psikologi Islam berkaitan dengan kognitif tidak memusatkan otak sebagai sentral dalam proses berfikir. Proses berfikir melibatkan banyak elemen termasuk otak atau akal, nafsu, dan hati nurani atau qolb. Al-Gazali menjelaskan hubungan ketiganya seperti hubungan raja, perdana menteri, dan mentri-mentri. Fungsi raja diwakili oleh hati, perdana meneteri oleh otak, dan menteri oleh nafsu. Pengambil keputusan adalah raja, perdana menteri adalah sebagai pelaksana tugas, dan menteri merupakan pelaksana tugas lapangan.
Di dalam al-Qur’an sendiri perkataan Aql tidak pernah disebut dalam kata benda, selalunya al-Qur’an menyebutnya dengan kata kerja, Seperti ‘afala ta’kiluun’, afala tatafakarunn’, afala tatadabbaruun’. Ini menunjukkan bahwa berfikir itu merupakan sebuah proses kerja dan pusatnya adalah di hati dan hati itu adanya di dalam dada. Sebagaimana dalam al-Qur’an surat al-Hajj ayat 46 yang artinya Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.
Maka pengertian yang bisa dipahami dari surat al-Ankabut ayat 49 dan surat al-Hajj ayat 46 adalah bahwa:
1. Pusat berfikir yang luar bisa letaknya ada di hati, maka untuk memahami al-Qur’an tidak bisa hanya menggunakan kognitif atau akal saja. Ia harus dipahami dan dihayati kemudian diamalkan.
2. Al-Quran hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang berilmu yang didalam dadanya dipenuhi oleh keimanan kepada Allah, sementara orang yang mempelajari al-Quran tanpa keimanan dalam dada, maka ia hanya menjadi sebatas pengetahuan.
3. Makna dada pada kedua ayat tersubut sekaligus mempunyai dua pengertian, yaitu makna secara biologis atau fisik yaitu dada yang di dalamnya terdapat jantung  dan juga pengertian psikologis yang merupakan alam tempat bersemayamnya ruh dan hati nurani.
4. Makna hati juga mempunyai dua pengertian, secara biologis atau fisik adalah jantung, sedangkan secara psikologis adalah hati nurani yang dalam bahasa arab sering disebut dengan Qolb atau Fu’ad (Ahmad Bubarok: 2009).
Pembinaan pola pikir atau kognitif, yakni pembinaan kecerdasan dan ilmu pengetahuan yang luas dan mendalam sebagai penjabaran dari sifat fathonah Rosulullah. Seseorang yang fathonah itu tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki kebijaksanaan atau kearifan dalam berpikir dan bertindak. Mereka yang mempunyai sifat fathonah mampu menangkap gejala dan hakikat dibalik semua peristiwa, mereka mampu belajar dan menangkap peristiwa yang ada di sekitarnya, kemudian menyimpulkannya sebagai pengalaman berharga dan pelajaran yang memperkaya khazanah. Mereka tidak segan untuk belajar dan mengajar, karena hidup hanya semakin berbinar ketika seseorang mampu mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa tersebut.
d)     Humanistis
Psikologi humanistik merupakan salah satu aliran dalam psikologi yang muncul pada tahun 1950-an, dengan akar pemikiran dari kalangan eksistensialisme yang berkembang pada abad pertengahan. Pada akhir tahun 1950-an, para ahli psikologi, seperti Abraham Maslow, Carl Rogers dan Clark Moustakas mendirikan sebuah asosiasi profesional yang berupaya mengkaji secara khusus tentang berbagai keunikan manusia, seperti tentang self (diri), aktualisasi diri, kesehatan, harapan, cinta, kreativitas, hakikat, individualitas dan sejenisnya.
Kehadiran psikologi humanistik muncul sebagai reaksi atas aliran psikoanalisis dan behaviorisme serta dipandang sebagai “kekuatan ketiga“ dalam aliran psikologi. Psikoanalisis dianggap sebagai kekuatan pertama dalam psikologi yang awal mulanya datang dari psikoanalisis ala Freud yang berusaha memahami tentang kedalaman psikis manusia yang dikombinasikan dengan kesadaran pikiran guna menghasilkan kepribadian yang sehat. Kelompok psikoanalis berkeyakinan bahwa perilaku manusia dikendalikan dan diatur oleh kekuatan tak sadar dari dalam diri.
Asumsi humanistik adalah memandang manusia sebagai manusia bermain (homo ludens). Tiap manusia mempunyai pengalaman yang unik, karena tidak ada satu pun manusia yang memiliki pengalaman yang sama. Dengan keunikan ini merupakan cara kita untuk berinteraksi antar sesama dalam kehidupan sosial. Dalam hal ini, manusia bukan hanya mencari identitas, tetapi juga berupaya mencari makna seperti makna kehidupan, kehadirannya di lingkungan, maupun apa yang diberikannya kepada lingkungan tersebut. Aliran ini bertumpu pada 3 dasar pijakan yaitu, 1) keunikan manusian, 2) pentingnya nilai dan makna, dan yang ke 3) kemampuan manusia untuk mengembangkan diri.
Humanisme dalam Islam sebenarnya sudah terumuskan dalam konsep khalifatullah dalam Islam. Untuk mengerti konsep ini bisa dilacak pada sumber dasar Islam surat Al-Baqarah (2): 30-32; yang substansinya ada tiga hal decara jelas diterangkan, yaitu: (1) manusia adalah pilihan Tuhan, (2) keberadaan manusia dengan segala kelebihannya dimaksudkan sebagai wakil Tuhan di atas bumi (khalifatullah fi al-ardl)), dan (3) manusia adalah pribadi yang bebas yang menanggung segala risiko atas perbuatannya.

Mengkaji Aspek-Aspek Psikologi Dan Komunikasi Massa
a. Efek seperti apa yang terjadi dari proses komunikasi massa?
1)      Efek kognitif, yakni pembentukan dan perubahan citra, citra terbentuk atas informasi yang kita terima. Menyampaikan informasi pada khalayak dengan membentuk, dan mempertahankan atau mendefinisikan citra. Di samping itu, dapat terjadi stereotir menurut Emil Dofivat yang menjelaskan bahwa media massa mempengaruhi gambaran umum tentang individu, kelompok, profesi, atau masyarakat yang berubah-ubah, bersifat klise, sering kali timpang, dan tidak benar. Pengaruh lainnya yaitu melaporkan dunia nyata secara selektif atau dipilih-pilih berdasarkan apa yang ingin tampilkan atau disampaikan oleh media massa tersebut sehingga mempengaruhi pembentukan citra menjadi stereotip sehingga bahaya media massa dapat menyebabkan depersonalisasi dan dan dehumanisasi tehadap konten yang dimuat oleh media massa tersebut.
2)      Efek afektif, yakni menurut Joseph Klapper yang meneliti tentang efek media massa terdiri dari, (a) pengaruh komunikasi massa diantarai oleh faktor- faktor predisposisional, proses selektif, dan keanggotaan kelompok. (b) karena faktor ini, komunikasi massa biasanya berfungsi memperkokoh sikap dan pendapat yang ada, walaupun kadang-kadang berfungsi sebagai media pengubah. (c) bila komunikasi massa menimbulkan perubahan sikap, perubahan kecil pada intensitas sikap lebih umum terjadi dari pada konversi (perubahan seluruh sikap) dari satu sisi masalah ke sisi yang lain.
3)      Efek behavioral, dalam kategori ini efek komunikasi massa terbagi menjadi 2. Pertama, efek prilaku sosial yang diterima yakni memiliki keterampilan yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Sedangkan yang kedua, efek prilaku agresif, adegan kekerasan dalam film dan televisi meningkatkan kadar agresi penontonnya. Mula-mula penonton mempelajari metode agresi setelah melihat contoh. Selanjutnya kemampuan penonton untuk mengendalikan diri berkurang. Akhirnya mereka tidak tersentuh oleh orang yang menjadi korban agresi, kemudian mengurang kendali moral penontonya dan menumpulkan perasaan mereka.
4)      Efek kehadiran media massa, yakni menurut McLuhan teori perpanjangan indra mengasumsikan media adalah perluasan indera manusia, telepon adalah perpanjangan telingan dan televisi adalah perpanjangan mata. Sedangkan menurut Steven H. Chaffe terdapat 5 macam hal yang menjadi efek komunikasi massa, diantaranya (a) efek ekonomis, (b) efek sosial, (c) efek pada penjadwalan kegiatan, (d) efek pada penyaluran atau penghilangan perasaan tertentu, dan (e) efek pada perasaan orang terhadap media.

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi khalayak tersebut.
Dalam teori Defleur dan Ball-Rokeach tentang pertemuan dengan media menimbulkan tiga asumsi pokok yakni, perspektif perbedaan individual, kemudian perspektif kategori sosial, serta perspektif hubungan sosial. Dari ketiga perspektif ini kemudian disimpulkan ada berbagai faktor yang akan mempengaruhi reaksi orang terhadap media massa, yakni. (1) organisasi personal psikologis, individu mempunyai potensi biologis, seperti sikap, nilai, kepercayaan, dan bidang pengalaman. (2) kelompok sosial dimana individu menjadi anggota. (3) hubungan internal pada proses penerimaan, kemudian pengelolaan dan penyampaian informasi terhadap penggunaan media.

Mengkaji aspek-aspek psikologi dalam komunikator, dilihat dari ethos komunikator.

Menurut Aristoteles dalam Jalaluddin Rakhmat (1985: 266), menyebutkan karakter komunikator sebagai ethos. Ethos terdiri dari pikiran yang baik (good sense), ahklak yang baik (good moral character), dan maksud baik (good will). Penulis menambahkan dengan prilaku yang baik.
Hovland dan Weiss menyebut ethos sebagai credibility yang terdiri atas 2 unsur, yaitu (1) keahlian (expertise) dan (2) dapat dipercaya (trust worthiness). Unsur kedua mutlak harus dimiliki oleh seorang komunikator agar bersifat kredibel. Sementara itu, para cendekiawan modern menyebut ethos Aristoteles sebagai (1) itikad baik (good mention), (2) dapat dipercaya (trust worthiness), dan kecakapan dan kemampuan (competence & externess).
Ethos atau faktor-faktor yang mempengaruhi evektivitas komunikator terdiri atas kredibilitas, atraksi, dan kekuasaan.
Kredibilitas merupakan seperangkat presepsi komunikate tentang sifat-sifat komunikator. Dalam definisi ini terkadung 2 arti yaitu, (1) kredibilitas adalah presepsi komunikate, jadi tidak inhern dalam diri komunikator, (2) kredibilitas berkenaan dalam sifat-sifat komunikator yang selanjutnya disebut dengan komponen-komponen kredibilitas. Kredibilitas adalah masalah presepsi. Kredibilitas akan berubah tergantung pada prilaku presepsi (komunikate), topik yang dibahas, dan situasi. Kredibilitas tidak ada pada diri komunikator, tetapi terletak pada presepsi komunikate.
Atraksi, suatu atraksi menyebabkan komunikator menarik. Karena menarik, ia memiliki daya persuasif. Selain itu ketertarikan seseorang atau komunikator disebabkan adanya kesamaan di antara keduanya, yaitu komunikator dan komunikate. Everett M. Rogers telah meninjau beberapa penelitian, yang akhirnya dia dapat membedakan kondisi homophily dan heterophily. Pada kondisi homophily, komunikator dan komunikate merasakan adanya kesamaan dalam status sosial ekonomi, pendidikan, sikap, dan kepercayaan. Sementara pada kondisi heterophily, terdapat perbedaan status sosial ekonomi, pendidikan, sikap, dan kepercayaan diantara komunikator dan komunikate. Komunikasi akan lebih efektif pada kondisi homophily dari pada heterophily.
Kekuasaan, dalam kerangka teori Kelman, kekuasaan adalah kemampuan menimbulkan ketundukan. Seperti kredibilitas dan atraksi, ketundukan timbul dari interaksi antara komunikator dan komunikate. Kekuasaan dapat menimbulkan sesorang seseorang dapat memaksakan kehendaknya kepada orang lain karena dia memiliki sumber daya yang sangat penting (critical resources). Berdasarkan sumber daya yang dimilikinya, French mengklasifikasikan jenis kekuasaan. Klasifikasi ini kemudian dimodifikasi oleh Raven (1974) dan menghasilkan 5 kekuasaan yaitu, (1) kekuasaan koersif, (2) kekuasaan keahlian, (3) kekuasaan informasional, (4) kekuasaan rujukan, (5) kekuasaan legal.

Mengkaji aspek-aspek psikologi dalam pesan komunikasi

Organisasi pesan, dalam bukunya berjudul De Arte Rhetorica, Aristoteles menyatakan bahwa pesan yang tersusun dengan baik lebih mudah dimengerti dari pada pesan yang tidak tersusun dengan baik. Ia menyarankan agar setiap pembicaraan disusun menurut urutan yaitu pengantar, pernyataan, argumen, dan kesimpulan. Pada tahun 1952, Beighley menemukan bukti nyata yang menunjukkan bahwa pesan yang diorganisasikan dengan baik lebih mudah dimengerti dari pada pesan yang tidak baik. Oleh karenanya, retorika sudah sejak lama menunjukkan cara-cara menyusun pesan mengikuti pola yang dissarankan oleh Aristoteles. Retorika mengenal 6 macam organisasi pesan, yaitu (1) deduktif, (2) induktif, (3) kronologis, (4) logis, (5) spasial, dan (6) tropikal (Rakhmat, 1982: 46).
Struktur pesan, bila Anda harus menyampaikan informasi dihadapan khalayak yang tidak sepaham dengan anda. Maka Anda harus menentukan apakah bagian penting dari argumentasi Anda yang harus didahulukan atau bagian yang kurang penting. Untuk menjawap pertanyaan ini adalah dengan menggunakan konsep primacy-recency. Koehler et. al. (1987: 170-171), dengan mengutip Cohen, telah menyebutkan kesimpulan penelitian seputar konsep primacy-recency sebagai berikut:
a.       Pembicara menyajikan 2 sisi persoalan yang pro dan kontra.
b.      Pendengar secara terbuka memihak satu sisi arbumen, sisi yang lain tidak mungkin mengubah posisi mereka.
c.       Pembicara menyajikan 2 sisi persoalan, biasanya kita lebih mudah dipengaruhi oleh sisi yang disajikan lebih dahulu.
d.      Perubahan sikap lebih sering terjadi jika gagasan yang dikehendaki atau yang diterima, disajikan sebelum gagasan yang kurang dikehendaki.
e.       Urutan pro-kontra lebih efektif dari pada urutan kontra-pro bila digunakan oleh sumber yang memiliki otoritas dan dihormati oleh khalayak.
f.       Argument yang terakhir didengar akan lebih efektif bila ada jangka waktu cukup lama di antara 2 pesan, dan pengujian segera terjadi setelah pesan kedua.
Imbawan pesan, apabila pesan kita maksudkan untuk mempengaruhi orang lain, kita harus menyentuh motif yang menggerakkan dan mendorong perilaku komunikate. Dengan kata lain, secara psikologis kita mengimbau khalayak untuk menerima dan melaksanakan gagasan kita. Adapun berbagai macam imbauan pesan yang terdiri atas, (1) imbauan rasional, (2) imbauan emosional, (3) imbauan takut, (4) imbauan ganjaran, dan (5) imbauan motivasional.
Pesan verbal, dalam psikologi pesan terdapat konsep yang berubah teknik pengendalian perilaku orang lain yang disebut bahasa. Dengan bahasa yang merupakan kumpulan kata, komunikator dapat mengatur perilaku komunikate (orang lain). Berbicara (berkomunikasi) menggunakan bahasa. Pada gilirannya bahasa adalah pesan dalam bentuk kata-kata dan kalimat, yang disebut pesan linguistik (non-verbal). Dalam pesan linguistik terdapat bahasa, terdapat dua cara untuk mendefinisikan bahasa, yaitu secara fungsional dan formal. Secara fungsional berarti melihat bahasa dari segi fungsinya. Sehingga bahasa diartikan sebagai alat yang dimiliki bersama untuk mengungkapkan gagasan. Bahasa hanya dapat dipahami bila ada kesepakatan diantara kelompok sosial untuk menggunakannya. Adapun secara formal, bahasa dinyatakan sebagai semua kalimat yang terbayangkan, yang dapat dibuat oleh peraturan tata bahasa. Setiap bahasa memiliki peraturan bagaimana kata-kata harus disusun dan dirangkai agar memberi arti (dalam Jalaludin Rahmat Psikologi Komunikasi).
Pesan non-verbal, selain pesan-pesan verbal yang disampaikan melalui bahasa dengan segala penjelasannya, sekarang akan dibahas mengenai pesan non-verbal dalam komunikasi. Adapun Mark L. Knapp (1972: 9) telah menyebutkan 5 fungsi pesan non-verbal yaitu, (1) Repetisi, mengulang kembali gagasan yang sudah disajikan 2 secara verbal. (2) Subtitusi, menggantikan lambang-lambang verbal. (3) Kontradiksi, menolak pesan verbal atau memberikan makna lain terhadap pesan verbal. (4) Komplemen, melengkapi dan memperkaya makna pesan nonverbal. (5) Aksentuasi, menegaskan pesan verbal atau menggarisbawahinya. Mengenai klasifikasi pesan non-verbal, Duncan telah menyebutkan 6 jenis pesan non-verbal yaitu, (1) kinesik atau gerak tubuh, (2) paralinguistik atau suara, (3) prosemik atau penggunaan ruangan personal dan social, (4) olfakasi atau penciuman, (5) sensitivitas kulit, dan (6) faktor artifaktual, seperti pakaian dan kosmetik.