Friday, March 1, 2013

Peran Media Sosial Dalam Perubahan Budaya dan Pola Komunikasi


Ilustrasi by: kompasiana.com
 Manusia berinteraksi dengan manusia lain telah menjadi bagian inti dari kehidupan. Interaksi antar manusia merupakan rutinitas alamiah dalam fenomena hidup. Proses interaksi turut melibatkan proses komunikasi. Semenjak zaman manusia pertama diperkirakan ada hingga masa kini, proses interaksi maupun komunikasi senantiasa menunjukkan eksistensinya.
Terdapat dua tahapan proses komunikasi menurut Onong Uchyana Effendi, yakni proses komunikasi primer dan sekunder. Proses komunikasi primer ialah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (symbol) sebagai media. Proses komunikasi sekunder yaitu proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama.
Maksud dari media kedua dalam proses komunikasi secara sekunder antara lain, surat, telepon, teks, surat kabar, radio, televisi, internet, dan sebagainya. Media tersebut dimanfaatkan sebab letak komunikator dan komunikan berada di tempat yang relatif jauh, sehingga penggunaan media ini dapat menunjang efektivitas komunikasi. Perkembangan umat manusia dalam melaksanakan komunikasi dari segi kualitas maupun kuantitas mengalami peningkatan pesat dari waktu ke waktu. Komunikasi merupakan transmisi dari satu orang ke orang lain dengan pengirim ataupun penerimanya yang spesifik.
Awalnya, sistem komunikasi masih tradisional dengan mengandalkan burung merpati, asap api, mercusuar, ataupun pos berkuda. Ketika dunia telah mengenal mesin cetak, radio telegraf, maka model komunikasi telah berubah semakin cepat. Terlebih lagi setelah ada telepon, radio, televisi, teleks, facsimile (fax), hingga kini internet, masyarakat dunia dapat saling mengakses satu sama lain lebih cepat lagi.
Alternatif komunikasi masyarakat modern saat ini menyebabkan tuntutan manusia terhadap kebutuhan informasi semakin tinggi. Hal itu turut melahirkan kemajuan yang cukup signifikan dalam bidang teknologi. Peningkatan di bidang teknologi, informasi, serta komunikasi mengakibatkan dunia tidak lagi mengenal batas, jarak, ruang, dan waktu. Seseorang dapat dengan mudah mengakses informasi penting tentang fenomena kejadian di belahan dunia lain, tanpa harus berada di tempat tersebut. Padahal untuk mencapai tempat itu memakan waktu berjam-jam, namun hanya dengan seperangkat komputer yang memiliki konektivitas internet, informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik.
Internet (interconnection networking) merupakan jaringan komputer yang dapat menghubungkan suatu komputer atau jaringan komputer dengan jaringan komputer lain, sehingga dapat berkomunikasi atau berbagi data tanpa melihat jenis komputer itu sendiri. Internet terus berkembang, dengan munculnya Web 2.0 serta perkembangan mobile technology membuat prilaku masyarakat berubah dan sekaligus membuka peluang baru. teknologi Web 2.0 mengubah segalanya, internet menjadi bersifat interaktif dan dinamis. orang jadi bisa lebih mudah mengekspresikan dirinya, melakukan networking, membentuk komunitas, berkolaborasi, berpartisipasi dalam sebuah kegiatan, dan masih banyak lagi hal-hal lainnya yang dapat dilakukan di intener. ini menunjukkan bahwa Web 2.0 membuat proses horisontallisasi semakin cepat. internet bukan hanya milik generasi muda lagi.
Di masa kini, media terpenting dan memiliki jaringan paling luas adalah internet, yang menghubungkan komputer-komputer pribadi paling sederhana hingga komputer-komputer super yang tercanggih. Layanan internet sangat beragam dan senantiasa berinovasi sesuai kebutuhan masyarakat. Misalnya, e-mail, file transfer protocol (FTP), dan world wide web (www), e-commerce, e-government, e-fax, e-office, e-cash, e-banking, SMS, MMS, dan sebagainya. Jaringan internet menjadi media yang tercepat mengalami inovasi ke segala lini serta teradaptif dengan kebutuhan masyarakat, sehingga hampir semua media dan kebutuhan masyarakat dapat dikoneksikan ke dalam jaringan internet.
Data yang dilansir sejumlah media mengatakan, perkembangan pengguna internet kian bertambah jumlahnyatah hanya kini, kedepan juga masih terus akan bertambah seiring dengan fasilitas jaringan yang terus bertambah bagus.. Di seluruh dunia jumlah pemakai internet tercatat sekitar 3 juta orang pada tahun 1994. Di tahun 1996 tercatat lonjakan drastis, jumlah pemakai internet hingga sebanyak 60 juta pengguna, pada tahun 1998 angka ini meningkat tajam hingga mencapai 100 juta. Kini jumlah itu sudah semakin besar, berita yang dirilis Kantor Berita Antara, pada bulan Juni 2012 pengguna Internet di Negara Indonesia saja sudah mencapai angka 55 juta orang, dari jumlah penduduk Indonesia 245 juta[1].
Namun dalam penulisan ini tidak akan membicarakan pelanggan internet secara global, tetapi lebih spesifik pada sosial media yang sering disebut sebagai new media atau media masa depan yang didalamnya terdapat Facebook dan Twitter yang paling banyak digunakan. Indonesia memiliki jumlah pengguna yang terus bertambah di indonesia. Dari data tahun April 2012 yang dirilis Kantor Berita Antara menyebutkan Indonesia masih di level tiga untuk Facebook dengan jumlah pengguna sebanyak 44,6 juta pengguna Facebook dan sebanyak 19,5 juta pengguna Twitter masuk dalam level 5 dunia setelah Amerika Serikat dan Inggris[2].
Sumber lain mengatakan, pada priode November 2012, jumlah pengguna Facebook di Indonesia mencapai 51 juta pengguna.
Dari laporan untuk bulan November 2012 ini, SosialBakers menyebutkan bahwa jumlah total pengguna Facebook di Indonesia adalah 51 juta, dengan brand paling populer dilihat dari jumlah fans adalah Yahama Motor Indonesia dengan 2.666.903 fans, sedangkan untuk media adalah SCTV dengan 5.341.952 fans[3].

Kompas Online menyebutkan, hingga saat ini pengguna Facebook di dunia telah mencapai angka satu milyar.
KOMPAS.com — Perusahaan situs jejaring sosial Facebook mengumumkan telah memiliki 1 miliar pengguna. Dengan prestasi ini, Facebook mempertahankan posisi sebagai media sosial terbesar dan yang pertama memiliki 1 miliar pengguna aktif. Ini berarti satu dari setiap tujuh orang di planet ini menggunakan layanan Facebook. "Pagi ini (Jumat WIB), ada lebih dari 1 miliar orang yang menggunakan Facebook secara aktif setiap bulannya," tulis CEO Facebook Mark Zuckerberg dalam siaran pers yang dirilis pada Kamis (4/10/2012)[4].

Mengutip dari skripsi Ratih Dwi Kusumaningtyas, saat ini internet sudah menjadi konsumsi semua orang, baik untuk kalangan menengah ke bawah maupun menengah ke atas.
Facebook merupakan salah satu produk internet, namun menjadi lebih populer daripada internet itu sendiri. Banyak orang rela mengakses internet demi Facebook, padahal dahulunya internet bukan teknologi yang mudah bagi kebanyakan orang. Mereka dengan kelemahan latar belakang pendidikan, usia, dan status sosial atau ekonomi mau belajar internet demi mengekspresikan dirinya pada Facebook. Dahulunya, tukang sayur, office boy, pembantu rumah tangga, pedagang asongan, manula pada tahun 2003 tidak mengenal internet, namun kini mereka memiliki Facebook (Juju dan Sulianta, 2010:2)[5].

 Dari jumlah pengguna yang sedemikian banyak, media sosial atau new media tentunya memiliki kemungkinan besar dapat mengubah atau menciptakan budaya baru di kalangan masyarakat luas baik Indonesia maupun dunia. Mengutip tulisan yang dimuat di Majalah Cyber Edisi Oktober 2012: hal 3, sosial media dapat mengubah budaya dan media massa, yang disebabkan pola komunikasi yang berubah dan sosial media yang bisa menjadi sebuah media massa karena dibaca oleh ribuan orang tergantung teman yang mengikuti sosial media yang dimiliki seseorang.
Perubahan pola komunikasi yang terjadi setelah tumbuhnya social media cukup besar. Dulu, konsep dasar komunikasi pada media adalah adanya komunikator yang sering dijabarkan sebagai media massa, kelompok besar atau organisasi, sementara komunikan adalah masyarakat yang hanya menerima dan memberikan respon atau feedback tertunda. Kini, konsep itu berubah drastis. Saat ini, individu dapat menjadi komunikator untuk khalayak luas. Seorang komunikan pun dapat berubah menjadi komunikator ketika ia dapat mengungkapkan atau mendorong bahkan mempropaganda masyarakat lainnya[6].



[5] Dalam skripsi Ratih Dwi Kusumaningtyas ‘Peran Media Sosial Online (Facebook) sebagai Saluran Self Disclosure Remaja Putri di Surabaya’; Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timu; Surabaya; 2010.