Saturday, April 6, 2013

Aliran dalam Ontologi


 
ilustrasi by blog.umy.ac.id
Dalam ontologi, terdapat beberapa aliran didalamnya, diataranya yakni Materialisme, Idealisme, Dualisme, Agnoticisme namun ada pula yang menjabarkan adanya aliran Pragmatisme, Monoisme yang didalamnya terdapat Metrealisme serta Idealisme, serta ada pula aliran Nihilisme dan Pluralisme. Bahkan adapula yang menyebutkan bahwa Islam termasuk di didalam aliran otologi ini.
Penulis akan memaparkan beragam aliran yang ada dalam ontologi: 

a.      Idealisme
Tokoh utama dalam aliran ini ialah Plato dengan ajarannya yang terkenal yaitu; bahwa ia telah mengatakan seuatu yang nyata atau riil itu adalah sesuatu yang berada di ruang idea. Menurutnya idea merupakan gambaran yang jelas tentang dunia realita yang ditangkap oleh panca indra manusia[1].
Kaum idealisme berkayakinan, bahwa apa yang tampak dalam alam realitas bukanlah merupakan sesuatu yang riil, tetapi lebih merupakan bayangan atas apa yang bersemayam dalam alam pikiran manusia. Menurutnya realitas kebenaran dan kebaikan sebagai idea telah dibawa manusia sejak ia dilahirkan, dan karenanya bersifat tetap dan abadi.
Kaum idealis meyakini bahwa pengetahuan sesungguhnya adalah hasil atau produk akal, karena akal merupakan seuatu kemampuan melihat secara tajam bentuk-bentuk spritual murni dari sesuatu yang melampau bentuk materialnya. Kaum idealisme memandang segala sesuatu serba cita atau serba utuh[2].
Pengetahuan yang dihasilkan indra tidak akan pernah menjadi pengetahuan yang hakiki atau sebenarnya tanpa pernah membiarkan akalnya untuk menyusun pengetahuan yang memadai tentang apa yang dirasakan indara tersebut. Menurut aliran ini, pengetahuan adalah suatu bagian dari pemikiran manusia yang dikategorisasikan melalui alam yang objektif yang mana itu ditangkap oleh indra manusia. Oleh karena itu, objek pengetahuan haruslah melalui idea-idea yang seluruh koneksitasnya bersifat sistematis.
   Plato menempatkan konsep “the idea of the good” ini sebagai sesuatu yang sangat penting dan strategis dalam mengembangkan proses pendidikan. Ajaran filsafat Plato tentang idea memberikan keyakinan bahwa idea dapat meningkatkan kemampuan rasio manusia. Idea memiliki hubungan langsung dengan putusan-putusan rasio yang mengarah pada pembentukan sikap[3].
Plato sependapat dengan gurunya Socrates yang mengatakan bahwa pengetahuan yang diterima melalui panca indra mesti selalu berada pada ketidakpastian. Hal ini dikarenakan dunia materi hanyalah pantulan dari being yang lebih sempurna dan dalam realitasnya selalu tidak mencerminkan seluruh dari substansi yang sesungguhnya. Gambaran asli dari dunia idea manusia hanya dapat dipotret oleh jiwa murniya yang dalam banyak hal berkenaan dengan intelek manusia[4].
Idealisme berkeyakinan bahwa realitas sejati adalah dunia ruhaniah, bukan yang materi. Dengan kata lain bahwa yang hakiki adalah idea bukanlah panca indra. Apapun yang ditangkap oleh panca indra baik itu yang dilihat, diraba, dirasa, dan dicium , itu hanyalah sebatas itu saja. Sesuatu yang jelas dan pasti ialah apa yang berada dalam dunia idea.
Alam dalam pandangan idealisme adalah gambaran dari dunia idea, karena posisinya tidak tetap. Sedangkan yang dimaksud dengan idea adalah hakikat murni dan asli yang memiliki watak asli dan konstan[5].
Berdasarkan ini semua, maka akhirnya Plato menyimpulkan bahwa pengetahuan berada dalam dua tingkatan, yaitu hipotesis dan kepastia absolut. Plato berpendapat, bahwa pengetahuan adalah kesadaran dunia idea manusia bahwa pengetahuan yang diajukan dan kesadarannya memiliki hubungan sistematis dengan keseluruhan ideanya tentang kebaikan yang mutlak sebagai prinsip tertinggi dalam kehidupan manusia[6].
Cabang dalam filsafat Idealisme yaitu Idealisme Obyektif yang merupakan suatu aliran filsafat yang pandangannya idealis, dan idealismenya itu bertitik tolak dari ide universil (Absolute Idea- Hegel / LOGOS-nya Plato) ide diluar ide manusia. Menurut idealisme obyektif segala sesuatu baik dalam alam atau masyarakat adalah hasil dari ciptaan ide universil.
Cabanag berikutnya yaitu Idealisme Subyektif, merupakan filsafat yang berpandangan idealis dan bertitik tolak pada ide manusia atau ide sendiri. Alam dan masyarakat ini tercipta dari ide manusia. Segala sesuatu yang timbul dan terjadi di alam atau di masyarakat adalah hasil atau karena ciptaan ide manusia atau idenya sendiri, atau dengan kata lain alam dan masyarakat hanyalah sebuah ide/fikiran dari dirinya sendiri atau ide manusia.
b.      Dualisme
Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri dari dua macam hakikat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat rohani, benda dan roh, jasad dan spirit. Kedua macam hakikat itu masing-masing bebas dan berdiri sendiri, sama-sama azali dan abadi. Hubungan keduanya menciptakan kehidupan dalam alam ini.
Tokoh paham ini adalah Descartes (1596-1650 M) yang dianggap sebagai bapak filsafat modern. Ia menamakan kedua hakikat itu dengan istilah dunia kesadaran (rohani) dan dunia ruang (kebendaan). Ini tercantum dalam bukunya Discours de la Methode (1637) dan Meditations de Prima Philosophia (1641). Dalam bukunya ini pula, menerangkan metodenya yang terkenal dengan Cogito Descartes (metode keraguan Descartes/Cartesian Doubt). Disamping Descartes, ada juga Benedictus de Spinoza (1632-1677 M), dan Gitifried Wilhelm von Leibniz (1646-1716 M)[7].
b.      Realisme
Realisme merupakan aliran filsafat yang memandang bahwa suatu yang riil adalah sesuatu yang bersifat fisik dan psikis. Dalam pemikiran filsafat, realisme berpandangan bahwa kenyataan tidaklah terbatas pada pengalaman inderawi ataupun gagasan yang tebangun dari dalam. Dengan demikian realisme dapat dikatakan sebagai bentuk penolakan terhadap gagasan ekstrim idealisme dan empirisme.
Dalam membangun ilmu pengetahuan, realisme memberikan teori dengan metode induksi empiris. Gagasan utama dari realisme dalam konteks pemerolehan pengetahuan adalah bahwa pengetahuan didapatkan dari dual hal, yaitu observasi dan pengembangan pemikiran baru dari observasi yang dilakukan. Tradisi realisme mengakui bahwa entitas yang bersifat abstrak dapat menjadi nyata (realitas) dengan bantuan symbol-simbol linguistik dan kesadaran manusia. Gagasan ini sejajar dengan filsafat modern dari pendekatan pengetahuan versi Kantianism fenonomologi sampai pendekatan structural[8].
Realisme melihat adanya hubungan dealektik antara realitas subjek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak namun di pihak lain ada realitas lain yang berada di luar dirinya sebagai sesuatu yangt dijadikan objek pengetahuan. Sebuah pengetahuan baru dapat dikatakan benar apabila ada kesesuaian dengan dunia faktual, dapat diamati, dan bersifat substantif. Aliran ini menekankan, bahwa sesuatu dikatakan benar jika memang riil dan secara nyata memang ada[9].
 Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, pertama yaitu; subjek sebagai realitas yang menyadari dan mengetaui di satu sisi, dan yang kedua yaitu; realitas yang berada di luar diri manusia yang dapat dijadikan objek pengetahuan di sisi lain.
Bertolak belakang dari pandangan idealisme yang menyatakan bahwa pikiran manusia dimuati oleh kategori-kategorinya, seperti substansialitas dan kausalitas tentang data indrawi, maka realisme berkeyakinan, bahwa dunia yang kita terima bukanlah sebuah dunia yang kita ciptakan kembali secara mental, tetapi merupakan sebuah dunia yang apa adanya. Substansialitas, kausalitas, dan bentuk-bentuk alam adalah merupakan segi-segi dari benda-benda itu sendiri, bukanlah semacam proyeksi dan pikiran.
Bagi kelompok realisme, ide atau proposisi adalah benar ketika eksistensinya berhubungan dengan segi-segi dunia. Sebuah hipotesis tentang dunia tidak dapat dikatakan benar semata-mata karena ia koheren dengan pengetahuan. Jika pengetahuan baru itu berhubungan dengan yang lama, maka hal itu hanyalah lantaran “yang lama” itu memang banar, yaitu disebabkan pengetahuan lama koresponden dengan apa yang terjadi pada kasus itu. Jadi koherasi tidak melahirkan kebenaran[10].
Realisme berkeyakinan bahwa pengetahuan selalu dihasilkan dari proses pengamatan, pemikiran, dan kesimpulan dari kemampuan manusia sebagai subjek dalam menyerap dunia objek. Dengan demikian pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang koresponden dengan dunia sebagaimana adanya. Dalam perjalanan waktu, ras manusia telah menempatkan sejumlah pengetahuan yang kebenarannya telah dikonfirmasi secara berulang-ulang[11].
c.       Pragmatisme
Pragmatisme adalah mashab pemikiran filsafat ilmu yang dipelopori oleh C.S Peirce, William James, John Dewey, George Herbert Mead, F.C.S Schiller dan Richard Rorty. Tradisi pragmatism muncul atas reaksi terhadap tradisi idealis yang dominan yang menganggap kebenaran sebagai entitas yang abstrak, sistematis dan refleksi dari realitas. Pragmatisme berargumentasi bahwa filsafat ilmu haruslah meninggalkan ilmu pengetahuan transendental dan menggantinya dengan aktifitas manusia sebagai sumber pengetahuan. Bagi para penganut mashab pragmatisme, ilmu pengetahuan dan kebenaran adalah sebuah perjalanan dan bukan merupakan tujuan.
Kaum pragmatisme menyakini bahwa pikiran manusia bersifat aktif dan berhubungan langsung dengan upaya penyelidikan dan penemuan. Pikiran manusia tidak mengonfrontasikan dunia yang ianya terpisah dari aktivitas pendidikan dan penemuan itu. Pengetahuan dunia dibentuk melalui pikiran subjek yang mengetahuinya. Kebenaran itu tergantung sepenuhnya melulu pada korespondensi ide manusia dengan realitas eksternal, karena realitas bagi manusia tergantung pada bagian dalam ide yang menjelaskannya[12].
Menurut pragmatisme pengetahuan itu adalah produk dari proses interaksi atau transaksi antara manusi dengan lingkungannya. Dan kebenaran adalah suatu proferti bagi pengetahuan itu. Bagi kelompok pragmatisme suatu ide itu dapat dikatakan benar jika ia benar-benar berfungsi dan bisa diterapkan. Dengan kata lain sebuah pengetahuan dikatakan benar apabila ia bernilai, bermanfaat, dan dapat diterapkan.
William James mengatakan “ide itu dikatakan benar jika memberikan konsekuensi bernilai dan atau fungsional bagi personnya.” Sementara itu Peirce dan jhon Dewey  mengklaim bahwa suatu ide dikatakan benar hanya jika memiliki konsekuensi yang memuaskan ketika secara objektif dan saintifik ide itu dapat dipraktikkan secara memuaskan. Jadi, kaum pragmatisme memandang kebenaran suatu ide tergantung pada konsekuensi yang muncul ketika ide itu dioperasikan di alam empiris[13].

Jhon Dewey menyebutkan, bahwa pikiran bukanlah suatu yang ultimate, absolut, tetapi merupakan suatu bentuk proses alamiah dimana ia muncul sebagai hasil dari hubungan aktif antara organisme yang hidup dengan lingkungannya. Pikiran manusia selalu berawal dari pengalaman dan untuk kembali ke pengalaman. Ada hubungan interdependensi antara pikiran dan pengalaman empiris yang meniscayakan perubahan-perubahan. Tidaklah dikatakan pengetahuan jika tidak membawa perubahan bagi kehidupan manusia. Jadi, nilai pengetahuan dilihat dari kadar instrumentalisnya yang akan membawa pada akibat-akibat yang telah atau dihasilkan oleh ide/pikiran dalam pengalaman nyata[14].
Pragmatisme juga mengatakan bahwa method of intelegence merupakan cara ideal untuk mendapatkan pengetahuan. Kita menangkap sesuatu yang terbaik menurut kaum pragmatisme mestilah melalui melokalisasi problem sedemikian rupa dan memecahkannya[15].
Berbagai pendapat mengemukakan aliran-aliran yang berbeda-beda, sehingga memiliki banyak penjabaran. Dalam buku Filsafat Sebagai Akar Ilmu Komunikasi yang ditulis Nina Syam, menggambarkan bahwa ada tiga aliran besar dalam ontologi. 


[1] Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan, Refika Aditama, Bandung, 2011, Hlm: 89

[2] Nina W. Syam, Filsafat Sebagai Akar Ilmu Komunikasi, Simbiosa Rekatama Media,  Bandung, Hal: 93
[3] Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan Islam, LSFK2P, Pekanbaru, 2005, Hlm: 94
[4] Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan Islam, LSFK2P, Pekanbaru, 2005, Hlm: 89
[5] Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan Islam, LSFK2P, Pekanbaru, 2005, Hlm: 90
[6] Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan Islam, LSFK2P, Pekanbaru, 2005, Hlm: 92
[7] Amsal Bakhtiar. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 2007. Hlm. 142
[8]  Sumber: http://endro.staff.umy.ac.id/?p=87 diakses 25 Des 2012 pukul 15.40
[9] Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan, Refika Aditama, Bandung, 2011  Hlm. 95
[10] Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan Islam, LSFK2P, Pekanbaru, 2005, Hlm: 96
[11] Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan, Refika Aditama, Bandung, 2011  Hlm. 96
[12] Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan, Refika Aditama, Bandung, 2011  Hlm.97
[13] Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan, Refika Aditama, Bandung, 2011  Hlm.97
[14] Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan Islam, LSFK2P, Pekanbaru, 2005, Hlm: 98
[15] Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan, Refika Aditama, Bandung, 2011  Hlm.97